Sanctuary Tarsius fuscus TN Babul Jadi Laboratorium Alam bagi Mahasiswa Pariwisata UNHAS.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ————— Sebanyak 48 mahasiswa Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (UNHAS), mengikuti kegiatan kuliah lapang pada kawasan Sanctuary Tarsius fuscus di Resor Pattunuang, SPTN Wilayah II Cenrana, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada Minggu, 10 Mei 2026.
Pelaksanaan kegiatan tersebut berdasarkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) Nomor: SI.34/T.45/TU/KSA/5/2026 tertanggal 6 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan kawasan konservasi berbasis wisata edukasi dan pelestarian satwa endemik Sulawesi.
Suasana belajar di alam terbuka membuat mahasiswa tidak hanya menerima teori di kelas, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana pengelolaan sanctuary Tarsius fuscus dilakukan.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendapat pendampingan penuh dari Tim Sanctuary Tarsius fuscus yang berjumlah empat orang. Mereka diberikan materi dan penjelasan mengenai sistem pengelolaan sanctuary, konservasi satwa, hingga potensi pengembangan wisata alam berkelanjutan di kawasan Pattunuang.

Dosen pendamping, Drs. Hamris Darwis, CMW., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan kuliah lapang menjadi bagian penting dalam membangun wawasan mahasiswa terkait praktik pengelolaan destinasi wisata berbasis konservasi.
“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana kawasan konservasi dikelola agar memiliki pemahaman yang utuh tentang pariwisata berkelanjutan dan berharap kedepannya bisa melakukan penelitian maupun magang di tempat ini,” ujar Hamris Darwis.
Sementara itu, Koordinator Sanctuary Tarsius fuscus Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Kama Jaya Shagir, .Hut., M.Hut., menjelaskan bahwa kawasan sanctuary tidak hanya berfungsi sebagai lokasi perlindungan satwa, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum serta pengembangan ekowisata.
“Sanctuary Tarsius fuscus ini kami dorong menjadi pusat pembelajaran konservasi sekaligus sarana edukasi wisata alam bagi generasi muda,” kata Bang Jack, sapaan akrabnya.
Fungsional PEH, Supardi, S.Hut., menuturkan bahwa kegiatan lapangan seperti ini penting untuk memperkenalkan mahasiswa pada praktik konservasi di kawasan taman nasional.
“Mahasiswa dapat memahami langsung bagaimana upaya perlindungan satwa dan pengelolaan kawasan dilakukan secara berkelanjutan,” ungkap Supardi.

Hal senada disampaikan Aswadi Hamid yang menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan lapangan mampu meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
“Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa,” ujar Aswadi Hamid.
Sementara itu, Pengelola Umum Operasional Sanctuary Tarsius fuscus, Syamsuddin berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai bagian dari pengembangan edukasi konservasi di kawasan Pattunuang.
“Kami terbuka untuk kegiatan pembelajaran dan penelitian yang mendukung pelestarian satwa endemik Sulawesi,” kata Syamsuddin.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami pentingnya keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan upaya pelestarian lingkungan, khususnya terhadap satwa endemik Sulawesi seperti Tarsius fuscus
Laporan : Aswadi Hamid, S.P.
Penulis : Zaenal Arifin, S.Hut.

