MAKASSAR SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —- Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (YAMALI TB) Sulawesi Selatan gelar pertemuan kemitraan komunitas dengan pemangku kepentingan dalam memperkuat implementasi jejaring district-based public-private mix (DPPM) di tingkat Kota Makassar yang berlangsung di Hotel Remcy Makassar, (5/7/2022).
Kegiatan penjangkauan kasus TBC khusus di layanan swasta meliputi klinik, rumah sakit swasta dan pemerintah
Kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) komitmen bersama dalam mendukung pelibatan komunitas untuk memperkuat jejaring DPPM Kota Makassar.
Ketua Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (YAMALI TB) Sulsel sekaligus Koordinator Program SR YAMALI TB Sulsel, Kasri Riswadi mengatakan bahwa penyakit TBC sesungguhnya masalah besar karena beban TB sekitar 9 juta sedangkan untuk rangking beban TB tingkat dunia berada diurutan 3 setelah India dan China.
di Indonesia, Sulawesi Selatan masuk dalam 5 besar angka penyakit TBC dan penyumbang kasus terbesar di Sulawesi Selatan ada di Kota Makassar sekitar 30 persen angka penyakit TBC yang ada di Sulawesi Selatan.
Tantangan lain yang kami hadapi diantaranya penyakit ini rentan dengan stigma diskriminasi karena masih jamak di masyarakat tidak mau dikatakan punya penyakit TBC dan sebenarnya penyakit TBC obatnya gratis di Puskesmas. Akan tetapi walaupun masyarakat memiliki gejala penyakit TBC tidak mau datang ke puskesmas. Akhirnya mereka langsung datang ke klinik atau rumah sakit untuk berobat. Sementara data orang yang memiliki penyakit TBC berobat di klinik dan rumah sakit swasta itu tidak tercatat dengan baik, ujarnya.

Lebih jauh lagi Kasri Riswadi mengatakan bahwa intinya kegiatan ini bagaimana kita bisa menemukan kasus penyakit TBC itu meningkat karena pada tahun 2021 di Sulawesi Selatan perkiraan kasus yang ditemukan sekitar 48 persen ditemukan atau menjalani pengobatan sisanya itu tidak ditemukan, inilah yang menjadi tugas kita untuk menemukan 52 persen itu.
Kalau ini tidak ditangani dengan baik pasti akan lebih meningkat lagi apalagi yang terkena rata-rata usia produktif antara 18 sampai 40 tahun dan kebanyakan laki-laki dibandingkan dengan perempuan.
Saya berharap kepada para peserta melalui kegiatan ini terjalin kolaborasi dan kerjasama lintas sektor untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan yakni kasus TBC makin banyak ditemukan.
Salah satu target besar kami adalah eliminasi TB itu 2030 terwujud dan untuk mewujudkannya itu bukan hanya tugas dan tanggungjawab dari sektor kesehatan tetapi semuanya terlibat baik dari sektor usaha, pemerintah dan masyarakat, tandasnya.(**)

