Viral di Medsos Penertiban Pedagang K5, di Acara MTQ Kab Maros, Terlihat Beberapa Oknum Satpol PP Mengusir, Bahkan Main Tangan
MAROS GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —— Ironi di Balik Lantunan Ayat: Ketika Pentungan Mengalahkan Keteduhan di MTQ Kabupaten Maros berubah gemuruh suara lantunan ayat suci Al-Qur’an seharusnya menjadi penyejuk jiwa. Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kabupaten bukan sekadar lomba, ia adalah panggung peradaban, tempat di mana akhlak dan spiritualitas dijunjung
setinggi-tingginya.” Namun, sebuah rekaman amatir yang viral baru-baru ini justru memotret pemandangan yang kontradiktif: sebuah noktah hitam di atas kain putih kesucian acara tersebut.
Dalam video berdurasi singkat yang beredar luas di media sosial, kita tidak melihat keramahan “Butta Salewangang”. Sebaliknya, yang tertangkap layar adalah ketegangan yang memuncak. Beberapa oknum Satpol PP terlihat melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima (K5) dengan cara yang jauh dari kata persuasif.
Suara pedagang yang tidak terimah ulah satuan oknum satpol yang menakjubkan Arogansinya dengan semena mena melarang dan mengusir pedagang agar tidak menjajahkan dagangan disembarang tempat, karena telah disiapkan tempat untuk para pedagang,” Namun Ironis sebahagian pedagang tidak mampu membayar sewa tenan yang dibadrol 3 Juta selama 5 hari yang berukuran 3×3.
Teriakan, aksi dorong, bahkan dugaan “main tangan” atau kekerasan fisik menjadi tontonan pilu yang mengoyak kenyamanan pengunjung.Antara Perut dan Peraturan
Kita semua sepakat bahwa ketertiban adalah pilar kenyamanan publik. Pedagang yang tumpah ruah di lokasi acara memang kerap dianggap mengganggu estetika bagi mata birokrasi. Namun, kita harus mengingat satu hal: bagi para pedagang K5 ini, kerumunan massa di acara MTQ adalah oase di tengah padang pasir ekonomi yang sedang terik.
Mereka datang bukan untuk berbuat kriminal; mereka datang menjemput rezeki halal demi menyambung napas keluarga di rumah.
Sangat ironis ketika sebuah acara yang mengagungkan nilai-nilai Al-Qur’an—yang penuh dengan ajaran tentang kasih sayang (rahmah) dan cara memperlakukan sesama manusia dengan martabat—justru diwarnai dengan aksi intimidasi. Apakah “ketertiban” harus selalu dibayar dengan “kekerasan”? Apakah seragam cokelat keabuan itu memberi hak bagi pemakainya untuk melupakan bahwa di hadapan mereka adalah saudara seiman dan sebangsa yang sedang berjuang mencari sesuap nasi?

Aksi “main tangan” oknum Satpol PP ini bukan hanya mencoreng wajah institusi pamong praja, tapi juga memberi kesan buruk pada pelaksanaan MTQ Maros itu sendiri. Masyarakat yang seharusnya pulang membawa ketenangan spiritual, justru pulang dengan ingatan tentang wajah garang petugas dan tangisan pedagang yang barang dagangannya berantakan.
Jika alasan penertiban adalah untuk menjaga kesakralan acara, maka kekerasan adalah cara paling tidak sakral untuk mencapainya. Tidak ada keindahan dalam keteraturan yang lahir dari rasa takut dan luka fisik.,”Menagih Humanisme Institusi
nseden kejadian di Maros ini harus menjadi refleksi besar bagi pemerintah daerah. Satpol PP perlu didorong untuk kembali ke khittahnya sebagai pengayom, bukan “algojo” lapangan. Penertiban bisa dilakukan dengan komunikasi dua arah, relokasi yang manusiawi, atau pengaturan zona dagang sejak awal sebelum acara dimulai.
Kita berharap, pihak berwenang di Kabupaten Maros tidak menutup mata. Investigasi terhadap oknum yang melampaui batas kewenangan harus dilakukan secara transparan. Karena jika kekerasan dibiarkan atas nama penegakan aturan, maka kita sedang menormalisasi sebuah budaya di mana yang kuat boleh menindas yang lemah.
Pada akhirnya, MTQ adalah tentang membumikan Al-Qur’an. Dan salah satu ajaran terpenting di dalamnya adalah: “Maka sampaikanlah lewat cara-cara yang baik.” Jangan sampai suara merdu qori di panggung utama tertutup oleh suara rintihan pedagang yang terzalimi di pinggir jalan.
Maros adalah tanah yang diberkati dengan keramahtamahan. Jangan biarkan insiden ini mengubah wajah Butta Salewangang menjadi wajah yang asing dan menakutkan bagi rakyat kecil.
Hingga berita ini diterbitkan belum ada keterangan jelas dari semua pihak terkait tim awak awak media masih berupaya untuk mendapatkan info lebih jelas
Laporan dipublish tim red Arya
