Viral di Media Sosial,TOKO SUMBER Oli
di Jalan Teuku Umar Raya Makassar Ketahuan Gunakan Oli Bekas: Warga Geram, Harga Murah Ternyata Dibayar Mahal
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —- Viral diplatfrom media sosial sebuah Toko Sumber Oli di Jalan Teuku Umar 7 tiba tiba berubah menjadi panggung kemarahan warganet. Sebuah video berdurasi 1 menit 34 detik yang diunggah oleh pemilik akun INFO SEKITAR TEUKU UMAR,Ophy Dai,” dalam video yang lagi viral tidak disebutkan hari dan tanggalnya kapan ditayangkan, Selasa 06 Januari 2026.
Namun langsung mengguncang jagat media sosial. Di dalam video itu, terlihat dengan jelas seorang montir di sebuah bengkel motor di Jalan Teuku Umar Raya 7 sedang menuangkan oli dari botol bekas yang ternyata sudah pernah dipakai oli kotor ke dalam mesin motor milik seorang pelanggan yang terlihat polos dan tak menaruh curiga.
,”Ternyata oli’nya hitam pekat, kayak air cucian mesin,”ungkap Costumer pemilik motor yang menjadi korban, saat ditemui di lokasi kejadian.
Video itu menyebar bak api dalam bambu. Dalam hitungan jam, lebih dari ribuan kali ditonton, dan ribuan komentar membanjiri kolom diskusi. Banyak yang menyebut bengkel tersebut dengan julukan sinis,

Oli Murah, Tapi Motor Jadi Korban
Menurut sumber dari kalangan mekanik profesional di Makassar, oli bekas atau oli regenerasi memang jadi barang gelap yang dijual murah di pasar gelap otomotif. “Oli bekas itu dipanaskan, disaring kasar, lalu dicampur zat kimia agar kembali kelihatan jernih,” Tapi fungsinya jauh dari standar. Gak bisa melumasi dengan baik, mesin cepat panas, boros bahan bakar, bahkan bisa rusak permanen,” jelas sumber yang tidak ingin dipublishkan namanya,” seorang montir senior yang sudah 15 tahun berkutat di dunia otomotif.
Fakta yang lebih mencengangkan: bengkel yang sempat dikenal karena tarifnya murah itu ternyata menyediakan dua menu oli, oli baru dan oli “hemat”. Sayangnya, tak satu pun stiker harga atau informasi transparan yang menjelaskan perbedaan antara keduanya.
Pelanggan yang memilih opsi lebih murah tanpa sadar sedang membeli petaka untuk mesin kesayangannya.
“Kalau harga murah, pasti ada yang dikorbanin. Tapi korbanin pelanggan? Itu namanya culas,” tulis seorang netizen bernama Rahmat di kolom komentar.
Namun, tak semua netizen langsung menghakimi. Sebagian justru mempertanyakan: “Kalau pelanggan minta yang murah, kenapa bengkel harus rugi? Harusnya tanya dulu, pakai oli baru atau bekas.”
Perdebatan pun melebar: siapa yang lebih bersalah bengkel yang menipu, atau konsumen yang tergiur harga murah tanpa mempertanyakan standar kualitas?
Respons Cepat Investigasi & Penutupan Sementara
Warga sekitar dan pengguna jalan berharap agar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Makassar turun tangan, melakukan pemeriksaan,
Kuat dugaan bahwa toko Sumber Oli dijadikan bukan hanya sebagai toko saja,” Akat tetapi bisa jadi tempat penyaringan atau pembuatan Oli Palsu dengan peralatan penyulingan
Ini Merupakan Pelanggaran serius terhadap perlindungan konsumen dan standar pelayanan jasa perbaikan kendaraan,” tegas beberapa warga, berharap agar Kepala Bidang Perlindungan Konsumen Disperindag Makassar turun melakukan audit

Pemilik bengkel, yang enggan disebutkan namanya,didalam video bahwa mereka tidak akan mengulangi lagi perbuatannya,” Namun disisi lain sudah pasti banyak korban, bisa jadi sudah puluhan ribu ton yang sudah diproduksi Oli Daur Ulang ini, berhubung karena toko sudah sejak lama beroperasi, praktik penyulingan itu sudah lama dilakukan
Sebenarnya kami sudah tahu dan ada warga yang lapor kalau isi oli tempatnya sudah terbuka dari dalam akhirnya saya pribadi monitor dan betul pakai Oli drum di isi dari dalam rumahnya,ujar sumber pemilik akun
Viralnya kasus ini menjadi cermin betapa eksploitasi terhadap konsumen bisa terjadi di tempat yang paling tak terduga Toko Sumber Oli pinggir jalan yang terlihat biasa saja.
Namun, di tengah kemarahan publik, muncul satu harapan: semoga kejadian ini menjadi alarm bagi semua pihak. Bagi konsumen: jangan hanya fokus pada harga, tanya bahan yang digunakan. Bagi penyedia jasa: kepercayaan tak bisa dibeli dengan diskon, tapi dibangun dengan integritas. Dan bagi pemerintah: pengawasan harus lebih masif, bukan hanya saat ada viral.
Hingga berita ini ditayangkan tim awak media belum mendapatkan penjelasan dan tanggapan lebih jelas dari pihak terkait
Laporan diPublish tim redaksi

