MAKASSAR SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– Mengulas pengalaman dalam Perjalanan, sehingga sampai Aku temukan Arti hidup dan maknanya hanyalah sebuah sejarah, yang kelak Kita tinggalkan
Dalam perjalananku dari Makassar menuju Bulukumba, sangat melelahkan dan mampir sejenak di sebuah masjid mungil, yang terletak disisi sebelah penjual jagung dikabupaten takalar. untuk menunaikan ibadah salat Jumat, dalam hatiku berkata, sungguh menajubkan, masjid ini, sampai ku tersanjung memuji ke eloknya desain Interiornya
Luar biasa di benak saya. Di luar masjid itu kelihatan mungil. namun cukup luas, ruangan didalamnya dan berlantai dua, Penyelenggara acara Jumat dari kaum anak muda, di Masjid ini
Mulai dari master of ceremony (MC), muazzin, khotib hingga imam, kesemuanya berhasil melaksanakan perannya dengan baik.
Kumemandang di sekeliling ruangan mesjid saya merasa kagum. 90 prosen jamaah di masjid ini berusia di bawah 40 tahun.
Setelah saya telisik, rupanya masjid itu milik salah satu pesantren yang ruang belajarnya terpisah ke halaman belakang.
Satu hal yang membuat saya terharu. Jamaah tekun mengikuti khotbah, tak ada yang mendehem atau pura-pura batuk. Walau khutbahnya agak panjang.
Adapun isi materi khutbah membahas tanda-tanda kiamat, salah satunya adalah sifat dan perilaku Dajjal.
Sehabis salat, tak ada jamaah yang langsung berdiri meninggalkan masjid, kecuali musafir yang terdesak oleh waktu.
Jamaah diam tafakur. Ada juga mulut komat-kamit seraya memainkan ruas-ruas jemari membaca kalimat thoyiban:
“subhanallahi,
walhamdulillahi,
walailaha illallaahu,
wallahu akbar, wala
haula walaquwwata
Illa billah”.
Rasa haru ini saya sebut saja ‘keterharuan transendental’, yakni semacam suasana batin yang dimensi puncak getarnya seakan menembus langit dan meneteskan air mata di hadapan Tuhan.
Dipimpin imam salat yang fasih, saya pun khusyuk dalam zikir. Hati gemuruh mensucikan Allah, memuji kebesaran-Nya, seraya menukik ke dalam diri, memohon ampun atas segala kelalaian hidup selama ini.
Di sini, saya merenung kembali. Ternyata, melantunkan zikir bersama (secara berjamaah), dilandasi niat ikhlas untuk semata mencari rida-Nya, adalah esensi keindahan spiritual yang paling nikmat.
Di situlah puncak keberdayaan batin untuk menghadirkan rasa keterharuan Ilahiyah, sebelum tengadah memohon petunjuk dan pertolongan Allah.
Sebagai pesan penting, jangan sia-siakan keberkahan hari Jumat.
Mari menggali keterharuan transendental sebagai pemicu hadirnya keterharuan sosial melalui zikir bersama seusai salat.
Maka dengan zikir itu, Insya Allah, akan terhampar cahaya ” ” “Barakaatin minassamaa’i wal ardhi”, yaitu berkah kehidupan dari segala penjuru langit dan bumi. Wallahu a’lam , Allahuakbar. ***
di ukir dari seorang Hamba Ilahi : Edy Hadris

