Monitoring Tarsius Primata Nokturnal, Pengalaman Langka 21 Peserta Monitoring di Karaenta.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ——- Sebanyak 21 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah kejuruan turun langsung menyusuri kawasan karst Site Karaenta, SPTN Wilayah II Cenrana, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, untuk mengikuti kegiatan monitoring Tarsius fuscus yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar lapangan yang mempertemukan praktisi konservasi, mahasiswa, dan siswa dalam upaya mengenal lebih dekat salah satu primata nokturnal endemik Sulawesi.
Monitoring dipimpin oleh Tim Kerja Sanctuary Tarsius Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terdiri atas Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., Supardi, S.Hut., Aswadi Hamid, dan Syamsuddin, dengan membagi personil menjadi 3 kelompok monitoring.
Mereka didampingi peserta dari berbagai institusi, di antaranya lima mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar yang dipimpin Wa Ode Dwi Sekar Lestari, sembilan mahasiswa PKL Gelombang XI Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin yang diketuai Ibrahimovic, dua mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung yakni La Ode Miko Fajri dan Andi Ahmad Gumilar , serta lima siswa PKL Mandiri SMK Kehutanan Negeri Makassar yang dipimpin Muh. Rabiul Hidayat.

Bagi sebagian besar peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama melakukan inventarisasi satwa liar pada malam hari.
A. Fathimah Az Zahra Birrul Walidain, mahasiswa UIN Alauddin Makassar, mengemukakan kesannya setelah mengikuti kegiatan monitoring tarsius fuscus hari ini yang sangat luar biasa.
“Kegiatan ini menumbuhkan rasa penasaran yang tinggi sehingga kami ingin mengeksplorasi dan mempelajari tarsius lebih dalam. Selain itu, mendengar vokalisasi tarsius secara langsung menjadi pengalaman yang sangat berkesan,” ucap Birrul
Ibrahimovic, yang akrab disapa Baim, mengaku terkesan dengan proses pencarian tarsius di habitat alaminya.
“Monitoring Tarsius fuscus adalah pengalaman baru bagi kami dalam inventarisasi fauna. Sangat unik karena Tarsius fuscus merupakan mamalia nokturnal yang memangsa serangga dan reptil,” ujar Baim.
Pengalaman menarik juga dirasakan La Ode Miko Fajri dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Bersama timnya, ia berhasil mengamati sepasang tarsius saat menyusuri jalur monitoring.
“Pada monitoring pertama, tim dibagi menjadi tiga kelompok. Kami berada di kelompok tiga bersama siswa SMK Kehutanan Makassar dan Ketua Sanctuary Tarsius. Saat mendekati sumber suara dari sisi kiri jalur, kami berhasil menemukan dua ekor tarsius, jantan dan betina,” tutur Miko.
Semangat serupa disampaikan Muh. Rabiul Hidayat, Ketua Rombongan PKL Mandiri SMK Kehutanan Negeri Makassar. Menurutnya, pengalaman terjun langsung di alam menjadi bekal penting bagi calon rimbawan muda.
“Kami merasa senang dapat kembali mengikuti kegiatan monitoring tarsius. Kegiatan ini menambah pengalaman dan pengetahuan kami tentang pengamatan satwa di habitat alaminya, sekaligus semakin menyadarkan kami akan pentingnya menjaga kelestarian tarsius dan lingkungannya,” kata Rabiul.
Kegiatan ini memiliki dua tujuan utama, yaitu mengumpulkan data populasi beserta kondisi habitat Tarsius fuscus, sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap konservasi satwa liar. Pasalnya, upaya konservasi memerlukan kolaborasi erat dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, kegiatan monitoring ini dirancang untuk memberikan pengalaman lapangan secara nyata agar para siswa dan mahasiswa memahami pentingnya penelitian, pemantauan populasi, serta perlindungan habitat.
Melalui proses ini, para peserta diharapkan dapat menjadi duta konservasi yang aktif menyuarakan pentingnya menjaga keberlanjutan Tarsius fuscus dan ekosistem karst Bantimurung Bulusaraung demi masa depan.
Laporan : Aswadi Hamid, S.P.
Penulis : Zainal Arifin, S. Hut.

