Ketika Hutan Mengajarkan Rasa Takjub: Kisah Pertama St. Khadija Menjelajahi Hutan Karaenta.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM —- Ada kalanya perjalanan paling berkesan bukan tentang apa yang berhasil kita lihat, melainkan tentang apa yang membuat kita terus ingin kembali.
Begitulah yang dirasakan St. Khadija, mahasiswi magang Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar, saat pertama kali menjejakkan kaki di Hutan Karaenta, kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada 4-5 Agustus 2026.
Perjalanan menyusuri jalur konservasi sepanjang kurang lebih 400 meter menjadi pengalaman yang tak mudah dilupakan. Jalan setapak berbatu, berdinding karst, vegetasi yang rapat, serta rindangnya pepohonan menjadikan setiap langkah terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Di tengah keheningan hutan, setiap suara burung, desir angin, hingga gemerisik dedaunan menghadirkan sensasi petualangan yang begitu nyata.

Perempuan yang gemar menjelajahi alam itu didampingi Tim Kerja Sanctuary Tarsius, Kak Aswadi Hamid, bersama dua siswa SMK Kehutanan Negeri Makassar, Muh. Rabiul Hidayat dan A. Zuhdi Ahmad Anif. Bagi Khadija, keindahan bentang alam karst yang menjulang, pepohonan besar, dan beragam satwa liar yang ditemui sepanjang perjalanan menjadi pemandangan yang memukau.
“Saya benar-benar kagum. Baru kali ini saya melihat hutan dengan suasana seperti ini. Rasanya membuat saya semakin menyadari betapa luar biasanya kehidupan yang tersimpan di dalam hutan,” ungkap Dija, sapaan akrabnya.
Tujuan utama perjalanan hari itu sebenarnya adalah mengamati Tarsius fuscus, primata mungil endemik Sulawesi yang menjadi ikon kawasan tersebut. Namun, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Tarsius belum menampakkan diri, hanya bermodalkan vokalisasi.
Anehnya, justru karena belum berhasil melihatnya, rasa penasaran Khadija semakin besar. Baginya, hutan seolah memberikan alasan untuk datang kembali.
Ada pengalaman lain yang tak kalah membekas. Perempuan kelahiran tahun 2005 itu mengaku untuk pertama kalinya melaksanakan salat di tengah hutan.
“Rasanya sangat berbeda. Di tengah pepohonan yang menjulang dan suara-suara alam yang begitu alami, saya merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata,” tutur Dija.
Hari pertama kegiatan diikuti oleh 25 peserta, kemudian berlanjut pada hari kedua dengan 13 peserta. Meski jumlah peserta berkurang, semangat belajar dan menjelajahi hutan tetap terasa.
Bagi St. Khadija, kunjungan pertamanya ke Hutan Karaenta bukan sekadar perjalanan magang. Ini adalah awal dari rasa cinta yang semakin tumbuh terhadap hutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga kawasan konservasi. Sebab, terkadang alam tidak langsung memperlihatkan semua keajaibannya. Ia hanya memberi sedikit petunjuk, agar kita selalu memiliki alasan untuk kembali.
Laporan : Aswadi Hamid, S.P.
Penulis : Zainal Arifin, S.Hut

