Di Balik Peristiwa Dalam Lingkup Sekolah Pihak Yayasan Sinergi Insan Unggul Sekolah Islam Al‑Azhar Makassar,” Kesannya Lepas Tangan” di Balik Kasus Oknum Guru
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —- Institusi dunia pendidikan, Yang terjadi di lingkungan sekolah berlabel religius, seharusnya menjadi mercusuar moralitas.,” Namun, belakangan ini, mata publik tertuju pada sebuah peristiwa yang mencoreng citra Yayasan Sinergi Insan Unggul, pengelola Sekolah Islam Al-Azhar Makassar.
Kasus yang menyeret seorang oknum guru seni dalam pusaran dugaan pelanggaran dengan sikap arogansi telah membuka kotak pandora tentang bagaimana sebuah institusi merespons krisis.” menjadi sorotan tajam bukan hanya perilaku oknum tersebut, melainkan respons pihak yayasan yang dinilai publik sebagai langkah “lepas tangan” yang amat pragmatis.
Episentrum Konflik,” Ketika Lembaga Menjadi Tameng dalam setiap kasus yang melibatkan oknum di lingkungan sekolah, posisi yayasan seharusnya menjadi penengah, pengawas, sekaligus pihak yang bertanggung jawab atas ekosistem pendidikan yang mereka bangun,” Namun, dalam kasus yang mencuat di Al-Azhar Makassar ini, kesan yang tertangkap adalah upaya sistematis untuk memutus rantai tanggung jawab dengan cara “mengorbankan” individu di level bawah.
Pertemuan mediasi diruang kantor Polrestabes Makassar Minggu 28/06/2026. Pihak PH. Menyampaikan bahwa oknum guru dan pihak yayasan ini telah memutus rantai sejak jatuhnya sangsi terhadap oknum guru tersebut yang berinisial Mr.H. seperti yang diberitakan sebelumnya melalui media ini
Peristiwa dari kejadian. ini,” Pihak yayasan seolah ingin mencuci tangan dari tanggung jawab institusional. Narasi yang berkembang di ruang publik menunjukkan adanya upaya untuk melokalisir masalah seolah-olah perilaku oknum guru seni tersebut adalah anomali yang berdiri sendiri, padahal publik mempertanyakan: ke mana sistem pengawasan selama ini?

Gambar Dokumentasi Istimewa diambil dari potret Ilustrasi
Pengalihan Isu salah satu poin krusial dalam polemik dari pihak oknum terkait dalam konteks administratif/finansial yang terseret). Menjadikan pihak ketiga atau oknum eksternal sebagai “kambing hitam” atau alat pengalih isu adalah strategi klasik yang sangat disayangkan.
Jika yayasan benar-benar berniat memperbaiki diri, substansi pola keadilan, Krisis Integritas”Sinergi Insan Unggul” terdengar megah, namun keunggulan sebuah institusi pendidikan tidak diukur dari seberapa rapi mereka memoles citra di media sosial, melainkan dari bagaimana mereka menghadapi kenyataan pahit di depan mata.
Ketika yayasan memilih untuk melepaskan tangan dan membiarkan oknum guru seni menanggung beban sendirian, tanpa menyentuh akar permasalahan, yang terjadi dalam lingkup sekolah,” maka yayasan tersebut sedang mempertaruhkan kepercayaan orang tua murid.
Pendidikan adalah soal keteladanan. Jika institusi yang mengusung nilai-nilai Islam justru menunjukkan perilaku yang tidak jujur (tidak transparan dalam menangani kasus), maka apa yang tersisa dari nilai-nilai “Al-Azhar” yang mereka bawa?
Pihak Orangtua IQ, sebagai wali siswa Menuntut Tanggung Jawab dan meminta Kompesasi kerugian, terkait Kasus di Al-Azhar Makassar, dari ke,Empat anaknya yang disekolahkan untuk keluar untuk pindah Sekolah, kesekolah lain diluar dari lingkup yayasan Al-Azhar Makassar,
Oknum guru seni terisolasi tanpa ada perbaikan sistemik justru akan menjadi “bumerang” bagi yayasan. Yang dibutuhkan saat ini bukan pembelaan diri atau pengalihan isu, melainkan audit menyeluruh, permintaan maaf yang tulus kepada pihak yang dirugikan, dan komitmen nyata untuk membersihkan lingkungan pendidikan dari praktik penyalahgunaan wewenang.” sekolah adalah tempat untuk memanusiakan manusia, bukan tempat untuk melempar tanggung jawab demi mempertahankan posisi
Laporan dipublish tim red

