Bayang-Bayang “Aliansi” yang Tak Jelas dan Upaya Menggoyang UNM
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —- Identitas sekelompok orang yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa UNM masih berada dalam kabut. Yang paling aneh, mereka meneriakkan tuntutan seolah-olah memegang palu hakim, padahal mekanisme pengadilan akademik maupun proses hukum formal sedang berjalan. Laporan telah masuk ke Polda dan kementerian; artinya, jalur resmi tak sedang tidur. Mengapa masih ada yang memilih gaduh sebagai panggung?
Keterlibatan kelompok yang tidak jelas asal-usulnya ini terasa berlebihan.
Mereka meminjam nama institusi besar seperti UNM, tetapi tidak menunjukkan bukti minimal bahwa mereka bagian dari civitas akademika. Jika identitas organisasi saja tak beres, bagaimana mungkin klaim moralnya dianggap sahih?
Satu hal sukar disangkal: gerakan seperti ini jarang berdiri sendirian.

Biasanya ada pihak yang merasa terganggu dengan proses profesional yang sedang berjalan. Ketika pintu hukum terbuka, tetapi masih saja ada yang memilih jalur keributan, itu sering menjadi tanda bahwa yang berteriak bukan sedang memperjuangkan kebenaran—melainkan sedang cemas oleh kedatangan kebenaran itu sendiri.
Di tengah hiruk-pikuk ini, UNM perlu dijaga. Kebenaran tak boleh dipaksa mengecil hanya karena ada kelompok yang senang meniup asap agar publik tak melihat api yang sebenarnya. Pengaktifan kembali Rektor UNM semestinya ditempuh melalui mekanisme sah, transparan, dan berbasis aturan, bukan melalui tekanan dari kelompok anonim yang tak diketahui struktur maupun legitimasi akademiknya.
Dunia kampus tidak dibangun oleh slogan, tetapi oleh akal sehat. Nalar adalah kompas; keributan bayaran bukan. Jika ada yang ingin memperjuangkan sesuatu, lakukanlah lewat koridor yang benar. Di universitas, argumen adalah mata uang, bukan kegaduhan. (Muhammad Rafii).
Laporan : Nindar

