Menyusuri The Kingdom of Butterfly, Siswi SMK Kehutanan Negeri Makassar Asah Kompetensi Konservasi.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ———- Sanctuary Kupu-Kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi ruang belajar terbaik bagi generasi muda. Kawasan yang dikenal sebagai The Kingdom of Butterfly ini tidak hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menjadi pusat konservasi, penelitian, dan pengamatan keanekaragaman hayati, khususnya kupu-kupu yang menjadi ikon kawasan karst Maros-Pangkep.
Di lokasi inilah lima orang siswi SMK Kehutanan Negeri Makassar menjalankan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mandiri melalui kegiatan monitoring spesies kupu-kupu yang dimulai tanggal 14 Juli 2026 hingga 17 Juli 2026.
Kelompok tersebut diketuai oleh Asqiyah Qalby bersama Antriani, Alisha Surfina, Jumridhah, dan Wafiq Afiqah Muaffah.
Selama kegiatan, mereka didampingi Koordinator Sanctuary Kupu-Kupu, Suci Achmad Handayani, bersama tim yang terdiri atas Sukmawati, Rusman Muliady, Dody Dwi Anugrah, dan Syamsuddin.
Memasuki kubah penangkaran (dome), para Siswi SMK Kehutanan Negeri Makassar melakukan pengamatan secara berkala dengan membawa tally sheet, telepon genggam, alat tulis, dan jaring serangga.
Mereka mengidentifikasi jenis kupu-kupu berdasarkan famili, seperti Papilionidae, Nymphalidae, Pieridae, Lycaenidae, dan Hesperiidae, sekaligus mencatat jumlah individu jantan dan betina yang ditemukan.
Tak hanya itu, para siswa juga mendata vegetasi yang menjadi tanaman inang bagi ulat maupun sumber pakan kupu-kupu dewasa (imago), serta mengamati perilaku satwa di habitat alaminya.
Data tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung upaya konservasi dan pengelolaan Sanctuary Kupu-Kupu secara berkelanjutan.
Koordinator Sanctuary Kupu-Kupu, Suci Ahmad Handayani, mengatakan bahwa keterlibatan pelajar dalam kegiatan lapangan merupakan langkah nyata membangun kepedulian terhadap konservasi sejak dini.
“Ilmu yang paling berharga adalah ilmu yang dipraktikkan langsung di alam. Semoga setiap data yang kita catat dan setiap spesies yang kita jaga menjadi saksi bahwa pemuda-pemudi SMK Kehutanan Negeri Makassar siap berdiri di garis depan konservasi Indonesia,” ujar Suci, sapaan akrabnya.
Ia berharap pengalaman tersebut mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kelestarian hutan dan satwa liar.
“Alam tidak membutuhkan kita untuk bertahan hidup, tetapi kitalah yang membutuhkan alam agar tetap bisa bernapas. Mari menjadi rimbawan yang tangguh, peduli, dan nyata dalam aksi menghijaukan bumi serta melestarikan kehidupan,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, Sanctuary Kupu-Kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kembali membuktikan perannya sebagai laboratorium alam yang melahirkan calon-calon rimbawan muda yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia.
Laporan : Aswadi Hamid, S.P.
Penulis : Zaenal Arifin, S.
Hut.

