KKN-T Unhas Gelombang 116 Hadirkan Massipa “Mandiri Sebar Pupuk dengan Alat Simple Paralon”
BANTAENG SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —— Sebagai bagian dari program kerja kelompok KKN Tematik Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Posko 1 Universitas Hasanuddin, mahasiswa menghadirkan inovasi alat bantu pertanian bernama Massipa: Mandiri Sebar Pupuk dengan Alat Simple Paralon di Desa Bonto Daeng, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, (30/72026).
Langkah ini diambil setelah tim KKN-T menemukan fakta bahwa sebagian besar petani di Desa Bonto Daeng tersebut berada pada usia 40-50 tahun ke atas. Kondisi ini membuat aktivitas menabur pupuk secara manual di lahan pertanian menjadi semakin berat karena keterbatasan tenaga dan mobilitas.
Sosialisasi program kerja Massipa dilaksanakan di aula Kantor Desa Bonto Daeng dengan menghadirkan kelompok tani, Karang Taruna, dan perangkat desa sebagai peserta. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T memperkenalkan cara kerja alat, keunggulan serta manfaatnya bagi petani.
Massipa dibuat dari bahan paralon yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga pupuk dapat tersebar merata hanya dengan cara di dorong diatas lahan. Desainnya yang ringan dan praktis membuat alat ini mudah digunakan tanpa memerlukan tenaga besar, sehingga sangat cocok untuk membantu petani yang sudah berusia lanjut.

“Selama observasi, kami melihat banyak petani disini yang sudah berusia 40-50 tahun keatas kesulitan menabur pupuk secara manual. Melalui Massipa, kami ingin memberikan solusi sederhana yang bisa meringankan pekerjaan mereka,” ujar salah satu mahasiswa KKN-T Gelombang 116 yang terlibat dalam program ini.
Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta yang merasa terbantu dengan kehadiran alat ini. Beberapa petani mengaku alat tersebut membuat proses pemupukan menjadi lebih cepat dan tidak terlalu membebani fisik.
Melalui program kerja Massipa, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T)
Pemberdayaan Desa Gelombang 116 berharap produktivitas pertanian di Desa Bonto Daeng dapat meningkat seiring dengan kemudahan dalam proses pemupukan. Selain itu, inovasi ini juga diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat sebagai bentuk kemandirian dalam mengelola lahan pertanian.
Laporan dipublish tim red

