Ketahanan Pangan Dimulai dari Regenerasi: P4S sebagai Sekolah Pertanian dan Ruang Tumbuh Petani Masa Depan
GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM BONE SULSEL ——- Ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga keberlanjutan pelaku yang menggerakkan sektor pertanian. Di tengah agenda swasembada pangan, minat generasi muda terhadap pertanian masih menjadi persoalan. Pada saat yang sama, kelembagaan petani belum sepenuhnya kuat dan akses terhadap teknologi maupun pelatihan belum merata. Jika tidak diikuti dengan penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan, kondisi tersebut dapat memengaruhi keberlanjutan produksi pangan nasional (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, 2025).
Persoalan regenerasi semakin terlihat dari struktur usia petani. Sensus Pertanian 2023 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 25,12 juta rumah tangga usaha pertanian dan 27,37 juta rumah tangga petani di Indonesia. Namun, sebagian besar petani berada pada kelompok usia di atas 45 tahun. Data tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan sektor pertanian membutuhkan strategi regenerasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah petani muda, tetapi juga peningkatan kapasitas mereka (Badan Pusat Statistik, 2023).
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah memperkuat Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Lembaga ini berfungsi sebagai ruang pembelajaran bagi petani melalui pendidikan nonformal, pelatihan, pendampingan, dan penyebarluasan inovasi teknologi pertanian.
P4S memungkinkan proses belajar berlangsung lebih dekat dengan kehidupan petani. Pengetahuan tidak hanya disampaikan dalam bentuk materi, tetapi dapat dipertukarkan melalui pengalaman dan praktik di lapangan. Petani dapat belajar dari sesama pelaku usaha tani, menguji teknologi, sekaligus mengembangkan cara produksi yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Peran tersebut menjadi semakin relevan dengan arah kebijakan pembangunan sumber daya manusia pertanian. Dalam Draft Rencana Strategis BPPSDMP 2025–2029, penguatan kelembagaan dan regenerasi petani ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan pertanian nasional (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, 2025).
Pemerintah juga menempatkan regenerasi sebagai bagian dari strategi untuk mencapai swasembada pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa generasi muda perlu dipersiapkan menjadi pelaku utama pertanian melalui peningkatan kompetensi, penguasaan teknologi, serta penguatan kelembagaan. Dalam arah kebijakan tersebut, P4S memiliki peran sebagai pusat pembelajaran, pendampingan, dan pengembangan petani agar mampu menjadi pelaku pertanian yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi (Kementerian Pertanian RI, 2026).
Gagasan tersebut kemudian diterapkan dalam konteks pembangunan pertanian di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, melalui Sikola P4S Lamellong. Program yang dikembangkan Tim PPK Ormawa UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin ini merupakan salah satu bagian dari inisiatif MANNENNUNGENG.
Sikola P4S Lamellong tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis petani. Program ini juga berfokus pada penguatan kelembagaan melalui penyusunan modul pelatihan, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, dan pendampingan berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi P4S sebagai pusat edukasi sekaligus penyebarluasan teknologi pertanian cerdas.
Dalam prosesnya, petani dibekali kemampuan yang lebih luas, mulai dari pengelolaan organisasi, perencanaan usaha tani, pembangunan jejaring kemitraan, hingga pemanfaatan inovasi pertanian modern. Dengan demikian, peningkatan kapasitas tidak hanya terjadi pada tingkat individu, tetapi juga pada kelembagaan yang menjadi tempat petani bekerja dan berkembang.
Penguatan P4S kemudian diintegrasikan dengan berbagai inovasi yang diterapkan dalam program MANNENNUNGENG. Inovasi tersebut mencakup penerapan *Alternate Wetting and Drying* (AWD) berbasis *Internet of Things* (IoT), pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik serta pakan ternak, pola tanam Jajar Legowo, introduksi varietas unggul, dan teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Integrasi ini membuat P4S memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat pelatihan. P4S dapat menjadi ruang demonstrasi teknologi, tempat petani melihat secara langsung bagaimana suatu inovasi diterapkan dan menilai manfaatnya berdasarkan kondisi pertanian setempat. Proses belajar menjadi lebih konkret karena pengetahuan bertemu langsung dengan praktik.
Kebutuhan terhadap model pembelajaran tersebut semakin besar ketika pertanian memasuki era digital. Teknologi seperti sensor IoT, sistem irigasi hemat air, digitalisasi pertanian, dan pertanian presisi memiliki potensi meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya. Namun, penerapan teknologi membutuhkan pengetahuan, keterampilan, serta pendampingan agar inovasi dapat digunakan secara tepat oleh petani.
P4S dapat mengambil posisi sebagai penghubung antara inovasi dan praktik lapangan. Hasil pengembangan teknologi, pengetahuan dari penyuluhan, dan pengalaman petani dapat dipertemukan dalam satu ruang pembelajaran. Dengan cara tersebut, inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat.
Di Desa Kajaolaliddong, penguatan Sikola P4S Lamellong juga diarahkan untuk membentuk kader petani yang mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian di tingkat desa. Kapasitas individu dan organisasi diperkuat secara bersamaan agar kelembagaan mampu mengelola inovasi, membangun jejaring kolaborasi, serta melanjutkan program secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir.
Hal tersebut penting karena regenerasi petani bukan sekadar persoalan usia. Generasi baru yang masuk ke sektor pertanian perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, kemampuan menggunakan teknologi, serta dukungan kelembagaan yang memungkinkan mereka mengembangkan usaha tani secara berkelanjutan.
Dengan perspektif tersebut, P4S dapat diposisikan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan pertanian Indonesia. Ia bukan hanya tempat transfer pengetahuan, melainkan ruang untuk membentuk petani yang mampu belajar, beradaptasi, berinovasi, dan bekerja secara kolektif.

Sikola P4S Lamellong memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dapat berkolaborasi dalam memperkuat kapasitas petani dari tingkat desa. Ketika kelembagaan diperkuat dan inovasi diperkenalkan melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan, pembangunan pertanian tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menyiapkan manusia yang akan menjaga keberlangsungannya.
Pada akhirnya, swasembada pangan membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan hasil panen. Indonesia membutuhkan petani yang siap menghadapi perubahan, memahami perkembangan teknologi, mampu mengelola usaha tani, dan memiliki kelembagaan yang kuat. Karena itu, memperkuat P4S sekaligus memperkuat regenerasi petani merupakan investasi jangka panjang untuk membangun pertanian Indonesia yang produktif, mandiri, modern, dan berkelanjutan.
Referensi
Referensi : Badan Pusat Statistik. (2023). Sensus Pertanian 2023 (ST2023): Mencatat pertanian Indonesia.
https://sensus.bps.go.id/main/index/st2023 Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. (2025). Draft Rencana Strategis (Renstra) BPPSDMP 2025–2029. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.https://polbangtanyoma.ac.id/wp-content/uploads/2025/09/Draft-Renstra-BPPSDMP-2025-2029.pdf Kementerian Pertanian RI. (2026). Menteri Pertanian: Regenerasi Petani Menjadi Fokus Utama Mewujudkan Swasembada Pangan. https://www.pertanian.go.id/?act=view&id=7090&show=news
Laporan dipublish tim red

