Di Balik Gerbang Besi Bollangi Saat Protes Anti Narkoba di Suarakan Berujung ‘Diskriminasi’
GOWA, SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM –– Suasana di depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Bollangi, Kabupaten Gowa, mendadak riuh. Sejumlah massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pemerhati Hukum (AMPH) turun berunjuk rasa, menyuarakan keresahan mendalam terkait maraknya peredaran narkoba yang diduga masih dikendalikan dari balik jeruji besi.Senin 26/05/2026.
Namun, aksi unjuk rasa yang sedianya menjadi ruang demokrasi itu justru memicu ketegangan baru. Alih-alih mendapatkan audiensi yang solutif, para demonstran mengaku menerima perlakuan “diskriminatif” dari oknum petugas nampak nyata dari beredarnya video yang berdurasi 2 menit 50 detik,” petugas lapas setempat.dengan Arogan memukul menendang dan menginjak injak para aksi Demostran,” kesannya petugas lapas tidak lagi memiliki rasa, untuk memanusiakan manusia
Tuntut Transparansi, Dibalas Intimidasi?

Koordinator aksi menyatakan bahwa tujuan kehadiran mereka bukanlah untuk mencari sensasi, melainkan bentuk kepedulian masyarakat terhadap masa depan generasi muda Sulawesi Selatan yang kian terancam oleh barang haram tersebut.
“Kami datang dengan data dan niat baik. Kami ingin mempertanyakan, bagaimana mungkin narapidana narkoba masih bisa beroperasi dari dalam? Tapi sambutan yang kami terima justru jauh dari semangat keterbukaan informasi publik,” ujar salah satu perwakilan massa dengan nada kecewa.
Menurut kesaksian para demonstran, saat mereka mencoba menyampaikan aspirasi di area depan lapas, sejumlah oknum petugas diduga melakukan tindakan yang membatasi ruang gerak massa secara berlebihan. Aksi saling dorong sempat tak terhindarkan, menciptakan pemandangan yang kontras antara seragam penegak hukum dan atribut massa aksi.
Isu “Bocoran” dari Dalam


Keberanian AMPH untuk turun ke jalan bukan tanpa alasan. Isu santer mengenai “privilese” yang didapatkan bandar besar di Lapas Bollangi menjadi konsumsi publik yang meresahkan. Masyarakat menuntut adanya sterilisasi Lapas dari alat komunikasi ilegal dan peredaran narkotika yang konon masih bisa dikendalikan dengan mudah oleh para pesakitan.
Diskriminasi yang dirasakan oleh massa aksi pun memicu tanda tanya besar: Apakah Lapas Bollangi sedang melindungi sesuatu? Atau mungkinkah ada ketakutan kolektif bahwa aksi ini akan membuka kotak pandora yang berisi jaringan gelap yang lebih besar?
Bola Panas untuk Kanwil Kemenkumham Sulsel
Kini, bola panas berada di tangan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sulawesi Selatan. Insiden di gerbang Lapas Bollangi ini telah menjadi viral dan memantik urgensi bagi otoritas di atasnya untuk melakukan evaluasi total.

“Kami tidak akan berhenti di sini. Jika aspirasi kami dibalas dengan intimidasi, maka ini adalah bukti bahwa ada sesuatu yang harus disembunyikan di dalam sana,” tegas salah satu orator di tengah kerumunan yang mulai memanas.
Aksi ini bukan sekadar tentang narkoba, melainkan tentang hak masyarakat untuk mendapatkan rasa aman dan transparansi dari instansi negara. Di tengah kepulan debu jalanan,” Gowa, tuntutan mereka tersampaikan jelas: Bersihkan Lapas dari Narkoba, atau jangan salahkan rakyat jika kepercayaan publik terhadap hukum terus merosot ke titik nadir.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Lapas Bollangi belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan diskriminasi yang dilayangkan oleh massa aksi. Publik kini menanti, apakah ini akan menjadi awal dari pembersihan besar-besaran, atau sekadar angin lalu yang akan menguap tertelan sunyinya jeruji penjara.
Laporan dipublish tim redaksi : ARYA

