MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ————— Mahasiswa magang skema penguatan kompetensi (MSPK) Universitas Hasanuddin (UNHAS) menunjukkan semangat belajar yang tinggi lewat kegiatan magang yang tak biasa. Selama beberapa hari, mereka turun langsung ke lapangan untuk mengenal lebih dekat dunia konservasi satwa liar di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros.
Bukan sekadar teori di kelas, tujuh mahasiswa Jurusan Konservasi Fakultas Kehutanan UNHAS ini merasakan langsung bagaimana menjaga dan merawat satwa endemik Sulawesi, seperti Tarsius Makassar dan Monyet Dare.
Kegiatan yang berlangsung sejak 30 Maret hingga 2 April 2026 ini menjadi pengalaman berharga yang membuka wawasan mereka tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat keterampilan praktis di lapangan.

Didampingi oleh Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, para mahasiswa diajak menyelami berbagai aktivitas konservasi. Mulai dari observasi perilaku satwa nokturnal, pengenalan habitat alami, hingga praktik monitoring langsung di kawasan Pattunuang dan Karaenta.
Mereka juga terlibat dalam pengelolaan kandang, pencatatan data lapangan, serta diskusi ilmiah yang memperkaya sudut pandang mereka terhadap upaya pelestarian satwa liar.
Koordinator Pengelola Sanctuary Tarsius dan Macaca Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., menekankan pentingnya kegiatan magang sebagai ruang belajar yang nyata dan aplikatif. Menurutnya, pengalaman langsung di kawasan konservasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memahami pengelolaan taman nasional secara menyeluruh.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pengalaman, tetapi juga menghasilkan laporan dan dokumentasi yang bermanfaat bagi pengelolaan kawasan ke depan. Mahasiswa jadi lebih paham bagaimana konservasi itu benar-benar dilakukan di lapangan, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk ikut menjaga kelestarian satwa,” ujar Bang Jack, sapaan akrabnya.

Salah seorang Fungsional PEH pada Sanctuary Tarsius dan Macaca, Aswadi Hamid, menyebut kegiatan ini sebagai “laboratorium hidup” bagi mahasiswa. Ia menilai pembelajaran langsung di alam mampu memperkuat pemahaman teoritis sekaligus membangun kepekaan ekologis generasi muda terhadap isu-isu lingkungan.
Sementara itu, Fungsional PEH, Supardi, S.Hut., menegaskan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat nyata. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memahami konsep konservasi, tetapi juga mengasah keterampilan teknis seperti monitoring satwa liar, identifikasi habitat, hingga teknik pengamatan yang sistematis di lapangan.
Tak kalah penting, petugas pemelihara satwa, Syamsuddin, menilai keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan konservasi sangat strategis. Ia menyebut generasi muda memiliki peran besar sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Kegiatan seperti ini diharapkan mampu membentuk karakter mahasiswa yang peduli dan siap berkontribusi dalam upaya konservasi,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa magang tidak hanya belajar, tetapi juga memberikan masukan konstruktif. Di antaranya terkait pengembangan fasilitas edukasi, penambahan media interpretasi, hingga penguatan informasi publik di Suaka Tarsius Makassar agar lebih menarik dan informatif bagi pengunjung.
Salah satu mahasiswa MSPK UNHAS, Muh. Adit Rifki, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru yang tidak ditemukan di ruang kuliah. Hal senada juga disampaikan Jeshyca Suka’ yang merasa kegiatan ini sangat berkesan, terutama karena suasana hangat dan dukungan penuh dari tim pendamping di lapangan.
Tak hanya menambah ilmu, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa semangat konservasi ke tengah masyarakat.
Laporan : Aswadi Hamid
Penulis : Zainal Arifin, S.Hut

