Antusias Warga dan Aliansi Pedagang Pasar Kalimbu, Bersatu Menyatakan Sikap Menolak Relokasi Ke Mallengkeri
GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM MAKASSAR SULSEL – — Jum’at Dinihari 22/05/2026. Ratusan warga dan pedagang di Pasar Kalimbu Bersatu turun keJalan Vetran Utara menyatakan sikap tegas menolak relokasi ke terminal malllengkeri ” bukan sekadar sekumpulan lapak dan kios yang menjajakan kebutuhan pokok. Bagi warga setempat dan para pedagang dipasar Kalimbu untuk ditertibkan sebagai kawasan pasar tumpah dan aktivitas bongkar muat
Jalan Vetran Utara menjadi jantung ekonomi yang telah berdenyut puluhan tahun, tempat di mana tawar-menawar menjadi riuh dalam ikatan kekeluargaan yang tumbuh subur,” para pedagang membuka lapak dengan waktu tertentu yakni kisaran Jam 2 Dinihari hingga pagi Pukul 5 – 30,” Aroma rempah, dan tumpukan sayuran dan segar, menjadi pemandangan yang menopang kehidupan setiap malam
Namun, ketenangan pasar itu kini terusik oleh rencana relokasi ke Mallengkeri. Rencana pemerintah dianggap sebagai langkah penataan, namun oleh warga dan pedagang dianggap sebagai ancaman bagi “periuk nasi” mereka
“Kami tidak menolak penataan, kami menolak kehilangan pelanggan,” ujar salah satu perwakilan pedagang dengan nada tegas. Bagi mereka, Mallengkeri dianggap kawasan yang asing dari ekosistem ekonomi yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun dipasar Kalimbu. Jarak, aksesibilitas, dan ketakutan akan hilangnya basis pembeli loyal menjadi alasan utama mengapa posisi mereka tetap teguh dan tetap berdagang dipasar Kalimbu


Bukan hanya karena aktivitas jual beli, melainkan karena dentuman tekad yang menyatu dalam satu seruan: “Kami Tidak Akan Pindah!” dari Pasar Kalimbu bukan sekadar deretan kios dan lapak. Akan tetapi Inilah jantung penggerak ekonomi kerakyatan di wilayah Kompleks pasar kalimbu adalah,” Tempat di mana pembeli dan pedagang membangun ikatan emosional yang melampaui sekadar transaksi uang.
Maka, ketika kabar mengenai rencana relokasi ke kawasan Mallengkeri mencuat, sebuah gelombang penolakan membuncah,” bukan karena pembangkangan, melainkan karena ketakutan akan hilangnya “jiwa” pasar yang telah menjadi rumah.Aliansi yang Mengakar,” Bersama warga sekitar yang merasakan dampak langsung,
“Kami tidak menolak pembenahan. Kami hanya menolak dicabut paksa dari akar sejarah kami,” ujar salah satu perwakilan pedagang dengan sorot mata yang tegas.
Bagi mereka, pindah ke Mallengkeri bukan sekadar pindah lokasi. Itu adalah pertaruhan nasib. Ada kekhawatiran nyata bahwa lokasi baru tidak akan memiliki ekosistem yang sama. Kedekatan dengan basis pelanggan, akses yang sulit, serta biaya operasional yang membengkak di tempat baru dianggap sebagai ancaman yang bisa mematikan periuk nasi mereka satu per satu.

Aliansi Pedagang Pasar Kalimbu kini menjadi simbol,” yang elegan namun keras. Mereka hanya menuntut dialog yang transparan, bukan sekadar perintah pindah. Mereka percaya bahwa jika pemerintah benar-benar ingin menata,” Perbaikilah kondisi pasar yang ada saat ini, tanpa harus memusnahkan denyut nadi yang sudah menjadi bagian hidup kami
Aksi solidaritas ini menyatukan warga sekitar yang bergantung pada kemudahan akses pasar, kini berdiri beriringan. Mereka memasang spanduk penolakan bukan sebagai pajangan, tapi sebagai manifesto bahwa suara rakyat kecil harus didengar oleh para pengambil kebijakan.
Perlawanan ini bukan sekadar tentang mempertahankan lahan. Ini adalah tentang martabat. Di balik setiap petak lapak di Pasar Kalimbu, ada cerita dan bukti hidup bahwa ekonomi kerakyatan mampu berdaulat jika diberikan ruang untuk tumbuh.” tentang perjuangan menyekolahkan anak, membayar kontrakan, dan bertahan di tengah kerasnya arus ekonomi.


Aliansi Pedagang Pasar Kalimbu menunjukkan bahwa mempertahankan apa yang menjadi hak dan nafas kehidupan,” Mereka bersatu”, Dengan para pedagang hanya ingin mengirimkan pesan kepada pemerintah kota: bahwa pembangunan yang ideal seharusnya tidak mengorbankan mereka yang sudah membangun ekonomi dari nol. Mereka meminta ruang dialog yang setara bukan relokasi sepihak yang terasa seperti pengusiran
Warga dan pedagang berharap agar,” Aspirasi mereka dapat diserap dan dicarikan jalan tengah yang adil, melalui Ibu Lurah Gaddong Rakhmawaty Mattayang, S.Pd., S.M., M.M.
yang hadir dilokasi pada saat itu, semoga bisa menjembatani permasalahan ini agar tidak terusik aktivitas mereka yang berdagang dan tidak menggunakan lapak permanen,” Seperti pedagang pasar sentral dijalan Hos Cokroaminoto Dan pasar cidu yang disulap jadi pasar kuliner, ujarnya
Laporan dipublish tim red : Arya

