Tim Kerja Sanctuary Tarsius Libatkan Siswa PKL SMK Kehutanan Negeri Makassar Monitoring Tarsius Makassar di Site Bantimurung.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM — Suara alam yang masih sunyi di sepanjang Sungai Bantimurung kembali menjadi saksi upaya pelestarian salah satu primata terkecil di dunia. Selama tiga hari, 14–16 Juli 2026, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung melalui Tim Kerja Pengelola Sanctuary Tarsius, melaksanakan monitoring populasi Tarsius fuscus pada site Bantimurung di Resor Bantimurung, SPTN Wilayah II Cenrana.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar lapangan bagi peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari SMK Kehutanan Negeri Makassar.
Sebanyak 10 orang peserta PKL SMK Kehutanan Negeri Makassar, Asqiyah Qalby sebagai ketua kelompok putri dan Rifaldi sebagai ketua kelompok putra serta Muh. Rabiul Hidayat sebagai Ketua Rombongan PKL Mandiri di TN Bantimurung Bulusaraung dan juga seluruh siswa-siswi lainnya turut terlibat secara langsung dalam setiap tahapan pengamatan.
Mereka mendampingi tim monitoring Tarsius fuscus menyusuri kawasan karst dan tepian sungai Bantimurung untuk mengenali habitat, mencatat lokasi titik koordinat tempat dan waktu berbunyi, karakteristik sarang, hingga mengamati perilakunya.
Monitoring dilakukan di sepanjang Sungai Bantimurung, dari Air Terjun Bantimurung hingga Danau Kassi Kebo.
Dari hasil pengamatan tersebut, tim berhasil memantau sembilan kelompok Tarsius fuscus, yang menjadi indikator penting dalam memantau kondisi populasi satwa endemik Sulawesi tersebut.
Koordinator Tim Kerja Sanctuary Tarsius, Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., mengatakan bahwa monitoring rutin merupakan bagian penting dari upaya konservasi berbasis data.
“Informasi mengenai jumlah kelompok dan jumlah individu tiap kelompok, karakteristik sarang, kondisi habitat, serta dinamika populasi menjadi dasar dalam menyusun strategi perlindungan yang lebih efektif” ujar Bang Jack, sapaan akrabnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan siswa magang dari SMK Kehutanan Negeri Makassar karena menjadi pengalaman berharga untuk membentuk generasi muda yang peduli terhadap konservasi satwa liar.
Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Supardi, S.Hut., menambahkan bahwa kegiatan monitoring tidak hanya bertujuan menghitung keberadaan tarsius, tetapi juga mendokumentasikan kondisi habitat dan potensi ancaman di lapangan.
“Data yang dikumpulkan setiap tahun menjadi bahan evaluasi untuk memastikan habitat Tarsius fuscus tetap terjaga sehingga populasinya dapat bertahan bahkan meningkat,” ucap Supardi.
Aswadi Hamid, Fungsional PEH yang juga anggota Tim Pengelola Sanctuary Tarsius, menegaskan bahwa kolaborasi antara petugas konservasi dan dunia pendidikan menjadi investasi penting bagi masa depan pelestarian keanekaragaman hayati.
“Melalui keterlibatan langsung di lapangan, para siswa tidak hanya belajar teknik monitoring satwa, tetapi juga mampu memahami bahwa menjaga hutan berarti menjaga rumah bagi ribuan makhluk hidup yang bergantung padanya,” ungkap Aswadi
Ia mengemukakan bahwa di balik tubuh mungil dan matanya yang besar, Tarsius fuscus menyimpan pesan besar tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
“Setiap langkah monitoring bukan sekadar menghitung populasi ataupun memantau kondisi habitat, tetapi juga memastikan bahwa suara alam Bantimurung akan terus menjadi rumah yang aman bagi primata endemik Sulawesi ini untuk generasi yang akan datang,” imbuh Aswadi.
Laporan : Asham-INAGRO22
Penulis : Zaenal Arifin, S.Hut

