Teknologi AWD Berbasis IoT dari Tim MENENNUNGENG PPK ORMAWA UKM KPI UNHAS Dukung Pertanian Cerdas di Desa Kajaolaliddong
BONE SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM ——- Tim MENENNUNGENG PPK ORMAWA UKM KPI Universitas Hasanuddin (UNHAS) menghadirkan inovasi pertanian cerdas melalui implementasi teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone. Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air pada budidaya padi. Program tersebut juga menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi yang mendukung sistem pertanian modern.
Teknik AWD mengatur pola penggenangan dan pengeringan lahan sawah secara bergantian selama proses budidaya. Berbeda dengan metode irigasi konvensional yang mempertahankan kondisi sawah selalu tergenang, AWD memberikan kesempatan tanah memperoleh oksigen ketika memasuki fase pengeringan. Kondisi tersebut mampu mengurangi aktivitas mikroorganisme penghasil gas metana (CH₄), yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam periode 100 tahun.
Penerapan AWD juga memberikan manfaat berupa penghematan penggunaan air irigasi sekitar 15–30 persen. Selain menekan biaya pemompaan air, metode ini mampu mengurangi limpasan pupuk dan pestisida ke badan air serta mempercepat dekomposisi jerami. Dampak tersebut turut membantu mengurangi praktik pembakaran jerami yang menjadi salah satu penyebab pencemaran udara.
Berkat berbagai keunggulannya, AWD kini menjadi salah satu teknologi climate-smart farming yang telah diterapkan di berbagai negara Asia, seperti Filipina, Indonesia, dan Vietnam. Pada tahun 2025, metodologi AWD di Filipina memperoleh persetujuan dalam skema Japan’s Joint Crediting Mechanism (JCM) sehingga dapat menghasilkan kredit karbon dari pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain itu, metode ini juga telah diakui dalam standar internasional seperti Verra (VCS), Gold Standard, dan Thailand Voluntary Emission Reduction Program (T-VER) sehingga memiliki prospek ekonomi melalui perdagangan kredit karbon.

Dalam implementasinya, Tim MENENNUNGENG memanfaatkan teknologi IoT berupa sensor yang mampu memantau kondisi lahan sawah secara real-time. Informasi tersebut membantu petani menentukan waktu pengairan dan pengeringan lahan secara lebih akurat sesuai prinsip AWD. Dengan demikian, penggunaan air menjadi lebih efisien dan proses budidaya dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan yang terpantau secara langsung.
Sebagai bagian dari program, tim juga melaksanakan pendampingan dan edukasi kepada petani mengenai penerapan AWD dan penggunaan perangkat IoT. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman petani mengenai pentingnya efisiensi penggunaan air sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Diharapkan, inovasi ini dapat mempercepat adopsi teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan di tingkat masyarakat.
Program ini diharapkan menjadi contoh penerapan inovasi perguruan tinggi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, AWD berbasis IoT juga berpotensi mendukung produktivitas pertanian dan pengembangan sistem budidaya rendah emisi di Indonesia. Dukungan berbagai pihak terhadap teknologi ini diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya agenda pembangunan pertanian berkelanjutan.
Laporan dipublish tim red

