Viral di Platfrom Media Sosial, Terkait Kasus Penganiayaan Yang diLakukan Oleh Terduga Pelaku Rusdianto Alias Ferry, Bantah Tudingan Tersebut
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– Menyikapi soal pemberitaan media online, bagai hempasan badai digital itu datang tiba tiba, menggulung kehidupan Rusdianto alias Ferry dan melemparkannya ke pusara badai penghakiman publik.
Beberapa potongan video melalui medsos dan gambar, dibagikan dengan kecepatan cahaya di berbagai platform media sosial, menarasikan sebuah kisah intimidasi Tudingan dan Fitnah Keji
Mrnurut Rusdianto, yang kini lebih akrab disapa Ferry, saat itu mereka sedang menerima tamu, dan datang tiba tiba, memicuh keributan berteriak sambil menggenggam batu,dan hendak menimpuk kami (Ferry),” dengan gerakan spontanitas kami menggunakan satu tangan mendorong jadi kami tidak pernah mencekik, malah kami kenah timpuh dikepala dari hp, yang dilemparkan Tanty

“,mala dicap sebagai pelaku yang tak terduga. Gelombang kemarahan membanjiri kolom komentar, memenuhi keadilan, menghujat, dan tanpa ampun menjatuhkan vonis sosial.
Label “terangka” menempel erat, bahkan sebelum proses hukum konvensional sempat menyentuh permukaannya. Dunia maya, dengan algoritmanya yang tak mengenal nuansa, telah menjadikan Ferry sebagai arketipe kebrutalan yang harus dihukum.
Simbol dari ketidakadilan yang kerap membuat hati nurani masyarakat terluka. Tekanan media sosial begitu kuat, hingga polisi pun bergerak cepat, mengamankan Ferry selang beberapa waktu setelah peristiwa ini,” yang berawal sejak 26 Januari 2024.bergulirnya pokok permasalahan antar pihak pelapor dan terduga terlapor terkait kasus PPA, yang ditangani, Oleh Unit Penyidik Jajaran Polsek Tamalate
Mirisnya lagi kasus PPA, ini yang ditangani oleh Polsek, yang bukan unitnya, seolah kasus ini dipaksakan
“Semua itu tidak seperti yang terlihat,” ujarnya kepada awak media,
Bantahan itu datang menggelegar di tengah asumsi yang sudah mengakar. Bukan pengakuan, melainkan penolakan mentah-mentah atas tuduhan. Ia menuturkan versinya sendiri tentang kejadian tersebut, yang jauh berbeda dari apa yang viral di beberapa media online
Ferry mengklaim ada hasutan, ada pemicu, atau bahkan bahwa kejadian yang terekam adalah bagian dari respons terhadap situasi yang lebih kompleks dari sekadar satu aksi tunggal. Ia berbicara tentang ketidakadilan media sosial yang hanya menyampaikan satu sisi cerita, mempercepat penghakiman tanpa memberikan ruang bagi pembelaan.

Tiba tiba, gelombang kekacauan melanda. Apakah ini upaya seorang pelaku untuk mengelak dari tanggung jawab? Atau mungkinkah ada kebenaran di balik klaimnya, bahwa ia adalah korban dari “pengadilan jalanan” versi digital yang seringkali lebih kejam daripada sistem hukum itu sendiri?
Kisah Rusdianto alias Ferry menjadi cerminan pahit dari era digital,”Sebuah era di mana kecepatan penyebaran informasi seringkali mengalahkan kebenaran yang utuh. Di mana dalam satu sisi, bisa menghancurkan reputasi, merenggut kebebasan, dan mengunci seseorang dalam penjara opini publik sebelum pengadilan resmi membuka sidangnya.
Kini, bola panas itu bergulir dipengadilan Makassar mereka bukan hanya mencari bukti dari kejadian yang viral, tetapi juga menyelami kompleksitas dan nuansa hasil dari BAP penyidikan Polsek Tamalate, yang dianggap dalam persidangan yang dibacakan oleh Hakim, dan menunda sidang kembali dilanjutkan pada hari Senin pekan depan
Laporan dipublish Redaksi :Arya

