KENDARI SULAWESI TENGGARA GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM ——– Universitas Halu Oleo kembali menambah jumlah guru besar yang memberikan kontribusi akademik di berbagai bidang ilmu, setelah Prof. Dr.Suriana,M.Si dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuam Alam (MIPA) Universtas Halu Oleo. Ia salah satu guru besar aktif di Fakultas MIPA dari 119 guru besar di Universitas Halu Oleo.

Dalam upacara pengukuhan yang berlangsung Rabu, 18 /10/ 2023 di Audditorium Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridarma, Kendari, Suriana menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Gen Crytochrome Oxidase Sub Unit I (CIO) Sebagai DNA Barcode Hewan Dan Peranannya Dalam Menunjang Identifikasi Hewan “
Suriana mengatakan bahwa , identitas yang dimiliki kebanyakan hewan saat ini didasarkan atas ciri marfologi, atau beberapa dengan ciri anatominya, hal tersebut telah dirintis oleh Carolous Linnaous seorang ahli tumbuhan berkebangsaan Swedia yang memulai pengenalan terhadap hewan dan tumbuhan dengan menggolong golongkan berdasarkan kesamaan dan kemiripan yang teramati secara kasat mata. Saat ini diktahui terdapat kurang lebih 3.750 juta spesies/jenis hewan yang tersebar diseluruh dunia (Mora et al.,2011).
Data menunjukkan bahwa masih banyak hewan yang belum teridentifikasi, bahkan beberapa diantaranya sudah terancam punah, sehingga perlu upaya diidentifikasi dan pelestarian demi kesinambunagan pemanfaatannya. Hal ini bukannlah pekerjaan yang mudah sebab untuk tujuan tersebut, maka diperlukan ahli-ahli taksonomi yang tentu saja memiliki pengetahuan deskripsi dan taksonomi yang mumpuni.

Selanjutnya ia mengatakan dengan sistema taksonomi seperti ini ada beberapa kekurangan yaitu: (a) bergantung pada ciri-ciri fisik yang dapat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan (b) bentuk organisme yang berubah seiring dengan waktu (misalnya, ada masa kanak2 dan dewasa, bahkan pada hewan yang mengalami perkembangan melalui metamorphosis setiap tahap perkembangan berbeda satu sama lain, (c) tidak memperhitungkan ciri-ciri lain seperti evolusi organisme, hubungan alami antar taksa yang berbeda.
Menurut Suriana, dengan kemajuan pengetahuan dan tehnologi, kelemahan taksonomi , khususnya pengenalan spesies seperti tersebut diatasi dengan memanfaatkan marka genetic, yaitu runutan nukleotida spesifik, baik menggunakan nekleotida yang berasal dari gen dalam inti maupun gen diluar inti (ekstra kromosonal).
Penggunaan marka genetik tersebut telah berhasil pada hewan maupun tumbuhan, serta microorganisme. Pada hewan segmen gen sitokrom oksidase sub uni I ( Cytrohome oxidase subunit I, disingkat COI), disusulkan sebagai marka genetik hewan, yang dikenal sebagai DNA bercode ((Hebert et al 2013), CIO sebagai barcode sudah berhasil dipergunakan baik pada hewan vertebrata maupun invertebrate (Gissi at al. , 2008; Galtier et al., 2009; Bucklin et al, 2001; Laopichienpong et al.,2016; Ren et al.,2018; Szyp-Borowaska et al., 2019; Xu et al.,2019; Cai et al.,2011).

Lebih lanjut Surianan mengatakan sampai saat ini ia bersama dengan beberapa dosen dan mahasiswa yang terlibat, telah berhasil mengesplorasi keaneka ragaman fenotipik dan kelimmpahan serangga-seranga pada Gunung Mekongga, di Pulau-pulau kecil Taman Nasional Wakatobi, srangga-serangga di Suaka Marga Satwa Tanjung Peropa Moramo, Taman Hutan Raya Murhum Kendari, dan menganalisis area barcode gen COI pada beberapa serangga serta tujuh spesies katak (Aura) Sulawesi Tenggara (Suriana et al.,2016); Suriana et al., 2018, Suriana et, al 2019 dan Suriana et 2022), beberapa serangga yang telah terdeskripsi dan telah divalidasi berdasarkan ciri morofolgi merupakan target untuk pembuatan barcode pada penelitian selanjutnya.
Diakhir pidato orasinya Suriana menyampaikan bahwa hasil penelitian ini telah termuat dalam beberapa jurnal nasional maupun internasional, beberapa telah diseminarkan. Gen-gen COI terlah tersubmit pada data gen Bank (https://www.nebi.nlm.nih.gov/genbank). Dengan demikian kajian penelitian kedua meliputi metode identifikasi hewan, yakni seara nyata klasik (berdasarkan ciri morfologi) dan secara modern (berdasarkan variasi sekuen gen COI). Ungkapnya.
Laporan : ( Zaenal Abidin )
.
.

