PMKRI Makassar dan PMKRI Salatiga Kolaborasi Perkuat Literasi Lewat Bedah Buku “Stand Strong” Karya Nick Vujicic
GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM MAKASSAR SULSEL ——- Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Makassar dan PMKRI Cabang Salatiga menggelar kolaborasi lintas cabang untuk memperkuat gerakan literasi di kalangan mahasiswa. Kegiatan tersebut dikemas dalam forum bedah buku bertajuk “Stand Strong” karya motivator dunia Nick Vujicic.
Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen PMKRI sebagai organisasi pembinaan dan perjuangan untuk terus menghidupkan budaya membaca dan berpikir kritis di tengah tantangan disrupsi digital.
PPO PMKRI Cabang Makassar mengatakan, kolaborasi dengan PMKRI Salatiga ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret untuk membangun jembatan intelektual antar cabang.
“Kami ingin literasi tidak berhenti di ruang diskusi internal. Dengan berkolaborasi Makassar dan Salatiga, kita saling memperkaya perspektif. Buku ‘Stand Strong’ kami pilih karena sangat relevan dengan mentalitas kader hari ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, perwakilan PMKRI Cabang Salatiga DAX PHPT Salatiga menegaskan bahwa pemilihan buku Nick Vujicic memiliki pesan moral yang kuat. “Stand Strong” menceritakan tentang ketahanan mental, cara menghadapi perundungan (bullying), kegagalan, dan cara menemukan kekuatan di dalam keterbatasan dan menerima diri sebagai manusia.
Nick Vujicic, yang lahir tanpa lengan dan kaki, dalam bukunya mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari fisik, melainkan dari keteguhan hati, iman, dan keberanian untuk bangkit. Demisioner PPO PMKRI makasar nofensius juga menekankan Dalam sesi diskusinya, peserta diajak untuk merefleksikan nilai-nilai dari buku tersebut ke dalam konteks perjuangan mahasiswa Katolik. Beberapa poin yang mengemuka adalah:

1. Ketahanan Terhadap Tekanan: Bagaimana kader PMKRI harus tetap berdiri teguh (stand strong) menghadapi tantangan akademik, sosial, dan dinamika organisasi.
2. Inklusivitas dan Empati: Belajar dari kisah Nick untuk tidak menghakimi dan berani melawan praktik bullying di lingkungan kampus.
3. Iman Sebagai Fondasi: Meneguhkan nilai-nilai Kekatolikan sebagai sumber kekuatan dalam setiap keterbatasan.
Forum yang berlangsung secara offline di margasiswa pmkri makasar ini diikuti kader dari kedua cabang dengan antusias. Diskusi berjalan interaktif, diwarnai dengan sharing pengalaman pribadi peserta terkait cara mereka bangkit dari keterpurukan.
Melalui kegiatan ini, PMKRI Makassar dan PMKRI Salatiga berharap dapat menjadi pemicu bagi cabang-cabang PMKRI lainnya di seluruh Indonesia untuk terus menggalakkan kolaborasi literasi.
“Literasi adalah napas pergerakan. Dari Makassar untuk Indonesia, dari Salatiga untuk Indonesia, kita ingin kader PMKRI tidak hanya aktif di jalan, tapi juga kuat dalam literasi dan refleksi,” tutup panitia pelaksana.
Kegiatan diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjadikan program bedah buku lintas cabang sebagai batu loncatan literasi kedepan.
Laporan dipublish tim red

