Generasi Muda sebagai Penggerak Pelestarian Kebudayaan melalui “Makassar Bercerita”
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM ——— 15 Agustus 2026 – Generasi muda sebagai penerus bangsa memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya mereka, tidak hanya sebagai pewaris, tetapi turut sebagai penggerak yang mampu memahami, membaca, serta mengenalkan kembali nilai-nilai budaya pada masyarakat. Semangat tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam kegiatan Makassar Bercerita: Tumbuh dari Kota Pesisir, Berubah, serta Bertahan yang dilaksanakan pada 8, 9, dan 15 Agustus 2026 di Museum Kota Makassar.
Kegiatan ini merupakan program yang memperoleh dukungan hibah melalui Fasiltiasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan (BP Kebudayaan Sulsel) dengan mengangkat Kawasan Kota Tua Makassar sebagai ruang pembelajaran dalam memahami perjalanan identitas kota, masyarakat, serta kebudayaan yang tumbuh didalamnya. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak untuk melihat bangunan dan peninggalan sejarah sebagai objek masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana sebuah kota dapat terbentuk, berkembang, serta mengalami perubahan, dan bertahan menghadapi berbagai pergolakan zaman.
Ketua Pelaksana Makassar Bercerita, Gilang Pratama mengatakan bahwa pelestarian kebudayaan perlu ditempatkan sebagai proses yang melibatkan generasi muda secara aktif:
_“Bagi kami, generasi muda tidak cukup sekedar menjadi penonton dari kebudayana kita, tetapi mereka perlu diberi ruang untuk mengenal, membaca, serta menceritakan kembali kotanya sendiri. Ketika generasi muda dapat memahami bagaimana sebuah kota bekerja serta bagaimana masyarakat didalamnya terbentuk, mereka akan memiliki alasan untuk ikut menjaga kebudayaan yang ada.”_ – Gilang Pratama

*Membaca Kota dari Ruang dan Cerita*
*Makassar Bercerita* Menggunakan pendekatan yang cukup mudah bagi generasi muda, yakni melalui kegiatan walking tour, diskusi, serta pembacaan langsung terhadap lokasi bersejarah di Kawasan Kota Tua Makassar. Kawasan tersebut mesti dipahami tidak sekedar kumpulan bangunan tua, melainkan sebagai ruang yang menyimpan berbagai cerita tentang perdagangan, masyarakat pesisir, migrasi, interaksi antarkelompok, kolonialisme, perubahan fungsi ruang, hingga kehidupan masayrakat yang terus berlangsung hingga saat ini.
Melalui pengalaman tersebut, peserta diajak untuk melihat bahwa kota tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang melibatkan masyarakat dan berbagai kepentingan didalamnya. Pemahaman tersebut menjadi penting bagi generasi muda karena memungkinkan mereka melihat budaya menjadi lebih luas. Kebudayaan tidak sekedar hadir dalam bentuk mati, atau bangunan, tetapi turut menjadi bagian dari cara masyarakat menggunakan ruang, membangun hubungan, mempertahankan memori, serta beradaptasi dalam perubahan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan dapat dimulai dari hal kecil, seperti menyusuri kota, mendengarkan cerita masyarakat, mengamati perubahan ruang, serta membagikan kembali pengetahuan tersebut kepada orang lain. Melalui semangat dari Tumbuh dari Kota Pesisir, Berubah, serta Bertahan, Makassar Bercerita berupaya dalam menghadirkan kembali kota Makassar sebagai ruang belajar untuk tempat masa lalu, kehidupan masa kini, dan masa depan dalam satu cerita.
Laporan dipublish tim red

