Api Dendam di Kampung Borta Beroangin: 13 Rumah Hangus, Jeritan Warga Terjebak dalam Pusaran Perang Kelompok
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM —— 18 Nopember 2025. KAMPUNG BORTA BEROANGIN Makassar, petaka menerpa Kampung Borta Beroangin,lorong bugis Dalam waktu kurang dari tiga jam, lautan api mengubah 13 unit rumah warga menjadi puing arang. Lebih dari sekedar kerugian materi, tragedi yang terjadi pada siang hari menyimpan luka yang jauh lebih dalam,
Keyakinan kuat dari warga setempat dan dugaan awal pihak kepolisian bahwa kebakaran masif tersebut bukanlah murni musibah, melainkan manifestasi brutal dari konflik laten dan perang kelompok antar warga yang selama ini menghantui kampung tersebut.
Korban jiwa dilaporkan nihil, namun kerugian fisik dan psikis tidak terhitung. kini terpaksa mengungsi, kehilangan seluruh harta benda mereka, hanya menyisakan pakaian yang menempel di badan.
Bara yang Ditunggangi Dendam
Borta Beroangin, yang secara geografis terbagi menjadi dua RW yang berseberangan pandangan, memang telah lama dikenal sebagai “kampung bermasalah.” Konflik yang semula dipicu oleh penyelesaian tapal batas, kini telah merambat menjadi permusuhan turun temurun yang melibatkan aksi saling serang, tawuran, hingga perusakan properti.
Namun, penggunaan api sebagai senjata penghancur massal merupakan eskalasi terparah yang pernah disaksikan warga.
“Ini bukan kecelakaan. Ini adalah aksi balasan yang keji,” ujar salah seorang korban yang rumahnya kini tinggal fondasi, dengan mata merah menahan tangis. “Sejak dua minggu yang lalu, suasana sudah sangat tegang setelah kejadian pelemparan batu pada rumah rumah warga sekitar
Desas Desus kematian salah seorang warga, yang dianggap menjadi panglima perang,”. dalam perang kelompok,”antar warga makin beringas dan anarkis
“Belum usai Jenasah Almarhum Nursyam Alias (Kipas Sutte) yang dikebumikan dipekuburan Beroangin, Pengantar sudah mulai melakukan penyerangan brutal
Menurut warga setempat kami sudah menduga bahwa akan ada serangan balasan,” tapi kami tidak menduga mereka akan membakar rumah dengan melempar menggunakan bom molotov atau material mudah terbakar yang dilemparkan secara serentak ke rumah-rumah yang berada di garis depan kelompok lawan. Pola penyebaran api yang cepat dan simultan di beberapa titik terpisah memperkuat teori bahwa kebakaran ini telah direncanakan secara matang.
Kejadian kebakaran ini tengah terjadi secara intensif dengan fokus utama pada dugaan pidana yang berkaitan dengan kelompok perang.
“Indikasi kuat pembakaran yang disengaja.dengan di’temukannya sisa sisa material yang mengarah pada bahan bakar cepat rambat,”
Warga berharap Agar Pihak kepolisian tidak hanya memburu pelaku pembakaran, namun juga berkomitmen untuk menindak tegas dalang dibalik konflik yang telah meresahkan Borta Beroangin selama bertahun-tahun.

“Tragedi 13 rumah yang hangus terbakar ini memberikan gambaran memilukan tentang harga mahal yang harus dibayar ketika konflik komunal dibiarkan memanas. Warga Borta Beroangin kini tidak hanya menghadapi kehilangan tempat tinggal, tetapi juga menghadapi masa depan yang terbelah.
“Kami hidup bersebelahan bertahun-tahun. Kami tumbuh bersama. Sekarang, karena ego kelompok, kami kehilangan segalanya,”
“Kami hanya berharap, api ini menjadi yang terakhir. Kami lelah dengan permusuhan. Kami hanya ingin kampung ini kembali merasakan damai, meski kini damai itu terasa seperti dongeng.”

Insiden di Borta Beroangin bukan hanya sekadar laporan musibah kebakaran. Ini adalah cermin sosial yang menggugat hati nurani, sebuah peringatan keras tentang bahaya memelihara bara balas dendam di tengah masyarakat,”
Kini, tugas terberat bagi pemerintah daerah dan tokoh masyarakat adalah penyelesaian api konflik yang sesungguhnya, api kebencian,” sebelum ia kembali menghabiskan lebih banyak nyawa dan harapan.
Laporan dipublish : Redaksi
