Menelisik Dugaan Warga Binaan (NAPI) Lapas Narkotika Bollangi Kendalikan Barang Haram Melalui HP.
GOWA SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kembali mencuat dan menjadi sorotan tajam dibeberapa Platfrom media” seharusnya menjadi tempat paling sunyi bagi para penjahat untuk merenungi kesalahan “Tempat di mana rantai kejahatan diputus, dari dunia luar untuk sementara waktu menjadi ilusi.” Namun bagaimana jika ilusi itu justru semakin sulit untuk diperangi akibat adanya eksekutor langsung dari dalam sel !,? Selasa 26 Agustus 2026.
Belakangan ini, publik kembali dikejutkan oleh desas-desus yang mencoreng wajah penegakan hukum Disinyalir Lapas Narkotika Bollangi memberikan kebebasan bagi narapidana untuk mengendalikan jaringan narkotika menggunakan handphone (HP).” Sebuah isu klasik, namun selalu berhasil membuat bulu kuduk merinding.
Berdasarkan informasi yang dihimpun,dan dikutif,” Sebelumnya Oleh media garismerah.id 26/08/2026.”Salman TB Seorang Warga Binaan diduga melakukan transaksi jual-beli narkoba secara langsung melalui panggilan video WhatsApp, berkomunikasi dengan pihak pembeli yang berada di luar area Lapas. Dalam percakapan tersebut, ia mengatur kesepakatan pesanan dan pembayaran seolah-olah tidak sedang berada di balik jeruji besi.
Bagaimana mungkin orang yang sedang menjalani hukuman karena merusak generasi bangsa, justru diberi “remote control” untuk melanjutkan bisnis haramnya dari balik jeruji?
Smartphone: Senjata Pemusnah Massal di Tangan Napi
Bagi seorang bandar narkotika, ponsel pintar bukanlah alat komunikasi biasa. Di dalam penjara, sebuah HP adalah kantor berjalan. Melalui gawai pipih tersebut, transaksi lintas provinsi dikoordinasikan, uang miliaran rupiah berputar lewat rekening nomor selancar, dan rantai pasok kematian tetap terjaga.
Jika benar Lapas Narkotika Bollangi—yang notabene menyandang nama “Narkotika” yang seharusnya menjadi garda terdepan perang melawan barang haram kecolongan atau bahkan “membiarkan” fasilitas ini, maka ini bukan lagi sekadar pelanggaran SOP. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap misi pemasyarakatan itu sendiri.

Bagaimana bisa seorang napi dengan leluasa memegang HP? Apakah pemeriksaan (razia) selama ini hanya menjadi sebuah gimmick pencitraan belaka? Saat razia kamera menyala, HP disita dan dimusnahkan. Namun, begitu lampu sorot media padam, apakah pintu-pintu sel kembali terbuka bersamaan dengan masuknya selundupan baru?
Kasus seperti ini tidak akan pernah terjadi jika tidak ada “angin” yang membiarkan api tetap menyala. Publik tentu mafhum bahwa peredaran gelap narkoba di dalam lapas adalah lingkaran setan yang melibatkan berbagai kepentingan ” publik mengindikasikan adanya dugaan “masuk angin” dari oknum petugas yang tergiur oleh kilau uang haram.
Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kenyamanan. Mulai dari sewa kamar khusus, pasokan listrik untuk mengisi daya baterai, hingga “izin khusus” untuk memegang gawai.
Jika Lapas Narkotika Bollangi gagal membuktikan bahwa mereka bersih, maka penjara tersebut bukan lagi tempat rehabilitasi, melainkan incubator kejahatan yang difasilitasi negara.
Ujian Bagi Kemenkumham dan Penegak Hukum ” Isu yang merebak di Lapas Narkotika Bollangi ini adalah sebuah tamparan keras, sekaligus ujian nyata bagi institusi terkait,” baik Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM setempat maupun aparat penegak hukum lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan,belum ada keterangan resmi dari pihak kalapas Bollangi maupun pihak terkait lainnya,” Redaksi membuka ruang hak jawab, dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebutkan. Dalam pemberitaan ini sebagai bagian dari prinsip keberimbangan.
Laporan dipublish tim red : (**/Arya)

