Menanti Itikad Baik yang Kandas Saat Orang Tua Siswa Terpaksa Menyeret Oknum Guru Yayasan Sinergi Insan Unggul ke Jalur Hukum
MAKASSAR GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– Orangtua Siswa Tempuh Jalur Hukum dengan melaporkan ,”Oknum Guru Seni tersebut di Polrestabes Makassar dengan aduan Nomor : STPLI/7/6/VI/2026/Satreskrim,” Usai Nilai Aduannya Tak Ditindaklanjuti, Soroti Dugaan Perlakuan Kasar tenaga pendidik oknum guru terhadap dirinya anaknya dan Minta Sekolah Islam Al Azhar Makassar Beri Perhatian Serius
Polemik antara salah seorang orang tua siswa berinisial *IQ* dengan pihak Sekolah Islam Al-Azhar Makassar terus bergulir. Persoalan yang berawal dari kekhawatiran orang tua terhadap kondisi anaknya kini berlanjut ke jalur hukum setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan dinilai tidak membuahkan hasil.
Kepada awak media “IQ” menjelaskan bahwa pokok persoalan yang dipermasalahkannya bukan semata-mata mengenai administrasi sekolah maupun biaya pendidikan, melainkan dugaan adanya perlakuan verbal yang dialami anaknya serta adanya komunikasi dari seorang teman siswa berinisial **AD** yang diduga memiliki hubungan dekat dengan anaknya.
“Nama besar Yayasan Sinergi Insan Unggul yang menaungi Sekolah Islam Al-Azhar Makassar, ada sebuah narasi yang sayangnya tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang dijunjung tinggi. dari pihak oknum guru seni persoalan menggantung dalam bab yang seharusnya bisa ditutup dengan elegan, justru menjadi duri dalam daging bagi Orangtua siswa yang merasa dirugikan oleh tindakan oknum guru seni.
“etika baik” yang seharusnya menjadi fondasi utama seorang pendidik.Guru: Bukan Sekadar Pengajar, Tapi Teladan Etika,” seorang guru, apalagi di lingkungan yang berbasis religius dan nilai-nilai Islam, memikul tanggung jawab yang jauh melampaui sekadar mentransfer ilmu tentang estetika atau seni. Guru adalah role model. Ketika seorang oknum guru seni di lingkungan yayasan tersebut diduga terlibat dalam masalah yang menuntut pertanggungjawaban, itikad baik Justru menjadi bumerang bagi kredibilitas institusi.
Menunggu selama beberapa bulan tanpa ada penyelesaian yang berarti bukanlah bentuk ketegasan, melainkan bentuk pengabaian terhadap rasa keadilan. Apakah persoalan ini dianggap sepele? Ataukah ada tembok birokrasi yang sengaja dibangun untuk melindungi martabat oknum, alih-alih menegakkan kebenaran?
“Saya sudah berupaya menyampaikan persoalan ini melalui beberapa kali surat resmi dan berharap ada itikad baik dari pihak sekolah untuk mempertemukan para pihak agar masalah ini dapat diselesaikan secara musyawarah. Namun sampai akhirnya saya mengambil langkah hukum,karena tidak ada upaya tersebut,” ujarnya.
Yayasan Sinergi Insan Unggul, sebagai payung besar yang menaungi sekolah tersebut, kini berada di bawah sorotan. Nama besar Al-Azhar Makassar tidak hanya dibangun oleh fasilitas yang mumpuni, tetapi juga oleh kepercayaan orang tua dan masyarakat.

“Ketika satu saja oknum tidak menunjukkan etika baik, maka seluruh sistem akan dipertanyakan integritasnya” Diamnya pihak terkait selama berbulan-bulan ini menimbulkan persepsi negatif. Apakah manajemen sekolah dan yayasan sengaja “membiarkan”? Atau memang ada kelumpuhan dalam sistem pengawasan internal mereka? Sebuah Panggilan untuk Bertindak
Pendidikan adalah tentang memperbaiki karakter. Bagaimana seorang pendidik bisa mengajarkan budi pekerti kepada siswanya jika dirinya sendiri gagal menunjukkan etika dasar dalam menyelesaikan masalah yang ia timbulkan? ” Oleh oknum guru yang bersangkutan
Kesannya pihak yayasan, hanya menggunakan pola pembiaran ” dengan mendiamkan masalah ini, karena tidak ada upaya, untuk mempertemukan kedua belah pihak, untuk meminta maaf atas apa yang telah dilakukan tenaga pendidik’nya
Mereka hanya menyampaikan bahwa oknum guru tersebut telah diberi sanksi teguran berupa SP1 dan SP2, dan untuk sementara tidak masuk mendidik, mengajar, dan berlaku beberapa hari sejak kejadian,”tanpa membiarkan untuk melakukan pertemuan antara kedua belah pihak
” yang menjadi tanda tanya (“), Jika etika baik itu memang ada, seharusnya pihak yayasan maupun, bisa menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan transparan, dan beretika.
“Karena pada dasarnya Pendidikan yang sejati tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan atau pencapaian nilai akademis, tetapi juga pembentukan karakter. Ketika kejujuran menjadi fondasinya, hal ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan moral yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
*Sampai berita ini ditayangkan, Jurnalis GerbangIndonesiaTimurNews.Com masih menunggu verifikasi dan tanggapan resmi dari pihak Sekolah Islam Al-Azhar Makassar maupun pihak terkait lainnya demi memenuhi prinsip keberimbangan pemberitaan serta memberikan informasi yang utuh kepada publik sesuai kaidah jurnalistik yang berlaku*
laporan di ipublish tim red (Arya)

