Peran LBH dan Media Harus Berjalan dalam Satu Irama,LBH adalah “otak” yang merumuskan argumen keadilan, Media Menyebarkan “napas” di publik
MAKASSAR GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– LBH dan Media Harus Berjalan dalam Satu Irama Di dalam ruang sidang yang dingin dan berbau kertas tua, keadilan seringkali terasa sunyi. Bagi masyarakat miskin dan buta hukum, labirin birokrasi seringkali menjadi tembok tinggi yang mustahil dipanjat sendirian. RABU 15 APRIL 2026.
Di sinilah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) berdiri sebagai pedang dan perisai. Namun, pedang tersebut seringkali tidak cukup tajam jika bekerja di kegelapan. ujar Haji Syam sapaan akrab yang biasa disapa dalam nama panggilan
Ia membutuhkan cahaya untuk mengungkap kebenaran, dan cahaya itu berasal dari Media.
Hubungan antara LBH dan Media bukanlah sekadar hubungan profesional biasa,” keduanya adalah dua pilar demokrasi yang harus berdetak dalam frekuensi yang sama demi terwujudnya penegakan hukum yang manusiawi. Yang menjadi Sebuah Sinergi Antara Fakta Hukum dan Narasi Publik
LBH bekerja dengan fakta hukum, prosedur tata negara, dan pembelaan di meja hijau. Fokus mereka adalah substansi hukum. Namun, sejarah membuktikan bahwa dalam banyak kasus, keadilan bisa “terlelap” jika tidak diawasi.
Di sinilah media masuk sebagai pengeras suara (amplifier).” Ketika LBH mendampingi yang haknya dirampas,” Media berfungsi mengubah angka-angka dalam laporan hukum menjadi cerita manusia yang menyentuh hati nurani publik.
Tanpa pendampingan hukum yang kuat (LBH),hanya menjadi sekadar sensasi sesaat. Sebaliknya, tanpa sorotan media, perjuangan LBH berisiko layu di balik pintu-pintu meja birokrasi yang tertutup.” untuk Mencegah “Hukum Rimba” dan Sensasionalisme
Penyamaan langkah antara LBH dan Media juga berfungsi sebagai kontrol etika.

Media memiliki kecenderungan untuk mengejar rating melalui sensasionalisme. Di sisi lain, LBH membutuhkan objektivitas agar kasus yang mereka tangani tidak dipandang sebagai opini semata.
Saat keduanya bersinergi, media tidak lagi hanya menyajikan berita “katanya”, tetapi berita berbasis data dan analisis hukum yang disuplai oleh para pejuang LBH. Hasilnya adalah jurnalisme advokasi yang cerdas
Sebuah kekuatan yang mampu mendesak aparat penegak hukum untuk bersikap transparan dan profesional. Ini adalah bentuk pengawasan publik (social control) yang paling efektif.
Edukasi Hukum Lewat Literasi Media
Peran strategis lainnya adalah edukasi. Banyak masyarakat melakukan pelanggaran hukum atau menjadi korban ketidakadilan karena ketidaktahuan. LBH memiliki pengetahuan, namun Media memiliki jangkauan.
Ketika LBH dan media bekerja sama menyajikan berita yang mendidik, mereka sedang membangun “benteng pertahanan” diMasyarakat tidak hanya diberitahu siapa yang ditangkap, tapi mengapa hak mereka dilindungi oleh undang-undang.

Narasi yang sejalan ini akan menciptakan masyarakat yang melek hukum, sehingga hukum tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, melainkan instrumen perlindungan.” Menghadapi Tantangan Zaman Digital Di era disinformasi saat ini, sinergi ini menjadi kian mendesak. Kabar bohong (hoax) mengenai kasus hukum dapat dengan mudah menyulut perpecahan.
HAJI SYAMSUL RIJAL S.H,M.H,” Ketua LBH Tombak Keadilan mengatakan peran Media harus menjadi sumber informasi otoritatif serta , harus menjadi verifikator yang memastikan suara-suara kaum marjinal terdengar di tengah kebisingan media sosial.
Jika LBH adalah “otak” yang merumuskan argumen keadilan, maka Media adalah “napas” yang menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri.
Penegakan hukum yang ideal tidak boleh terjadi di ruang hampa. Ia butuh pengawasan, ia butuh suara, dan ia butuh keberanian. Ketika Lembaga Bantuan Hukum dan Media berdiri berdampingan—yang satu memegang kompas kebenaran hukum, dan yang satu memegang lentera informasi—maka ketidakadilan akan semakin sulit menemukan tempat untuk bersembunyi.
Keduanya tidak boleh saling mendahului, melainkan harus seirama. Karena pada akhirnya, tujuan akhir mereka sama: memastikan bahwa hukum tidak hanya tajam ke bawah, tetapi juga tegak lurus bagi setiap insan, tanpa memandang kasta dan harta.
Laporan dipublish tim redaksi

