Pedagang dan Pengunjung Keluhkan “Fasilitas Umum” yang Hilang di Terminal penghubung Tramo Maros
MAROS SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– Di tengah hiruk pikuk aktivitas jual beli yang tak pernah surut di Pasar Penghubung Terminal Tramó, Maros Sulsel “terselip keluhan yang menggema dari para pedagang dan pengunjung. Bukan soal harga komoditas yang naik turun, bukan pula soal cuaca yang membakar kulit. Keluhan mereka tertarik pada sebuah fasilitas umum yang seharusnya menjadi kebutuhan primer, namun justru terasa seperti barang mewah yang sulit dijangkau
WC umum di terminal perhubungan yang merupakan pasar subuh dikabupaten, maros yang mulai beraktivitas jam 3 dini hari hingga jam 10 pagi ,” seakan akan di jadikan layaknya WC pribadi jadi pengunjung semua mengeluh termasuk para pedagang sangat resah karena selalu di gembok, dengan alasan tidak ada air
“Sudah beberapa lama begini, toilet digembok” keluh seorang pedagang ,” yang telah berjualan di sana selama lebih dari satu dekade. Matanya menyiratkan kelelahan sekaligus frustrasi saat menunjuk ke arah bangunan kecil berlabel “Toilet” yang kokoh terkunci rapat, bahkan sejak pagi buta.”Mau buang air kecil saja susah. Terpaksa harus ke warung kopi sebelah atau ke masjid yang lumayan jauh.”
Keluh kesah pedagang bukanlah anomali. Hampir seluruh pedagang di pasar penghubung ini berbagi pengalaman serupa. Bagi mereka,” akses terhadap toilet yang layak adalah suatu keharusan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kebersihan dan kesehatan. Belum lagi potensi hilangnya pelanggan jika pedagang terpaksa meninggalkan lapak dagangannya terlalu lama untuk mencari toilet.

,”masa toiletnya selalu dikunci? Rasanya seperti difasilitasi tapi juga tidak.”Situasi ini tidak hanya dirasakan oleh para pedagang. Pengunjung yang datang dari berbagai penjuru untuk bertransaksi di Tramó juga mengalami ketidaknyamanan serupa.
Mereka yang baru tiba dari perjalanan jauh, atau keluarga yang membawa anak-anak, seringkali harus berputar mencari alternatif ketika dihadapkan pada pintu toilet yang selalu tergembok.
Kalau memang ada fasilitasnya, dibuatlah agar bisa digunakan setidaknya pada jam-jam operasional pasar. Kuncinya dipegang siapa, kok bisa seenaknya digembok terus?”
Pemandangan toilet yang terkunci rapat setiap hari ini menjadi ironi di sebuah lokasi yang begitu vital bagi pergerakan ekonomi dan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut. Pasar Penghubung Terminal Tramó berfungsi sebagai titik transit dan pertemuan bagi banyak orang, menghubungkan berbagai daerah sekaligus menjadi pusat aktivitas ekonomi.
“Namun, fasilitas dasar seperti toilet justru menjadi penghalang.
Dugaan pun muncul di antara para pedagang dan pengunjung. Ada yang beranggapan bahwa penguncian toilet dilakukan untuk mencegah vandalisme atau doktrin. Namun, tak sedikit pula yang menduga adanya unsur komersialisasi terselubung, di mana akses ke toilet ternyata harus melalui

“biaya pribadi” kepada oknum tertentu. Apapun keluhan,”Kami sudah sering bicara ke pengurus pasar, tapi sepertinya dianggap angin lalu saja,” keluh seorang pedagang lain yang enggan menyebutkan namanya. “Kami ini orang kecil, suara kami kadang tidak didengar. Kami hanya ingin hak kami sebagai pemakai fasilitas ini terpenuhi.”
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah dan pengelola pasar. Menanggapi ketersediaan dan aksesibilitas toilet umum yang layak bukan sekadar soal membangun bangunan fisik, tetapi juga soal pelayanan publik yang memanusiakan para pengguna.
Jeritan para pedagang dan pengunjung Pasar Penghubung Terminal Tramó adalah pengingat bahwa terkadang, hal-hal paling mendasar justru seringkali terabaikan, terkunci, dan terjadi dalam hiruk pikuk kesibukan. Kapan toilet di Tramó akan benar-benar terbuka untuk umum secara merata?
Laporan tim red : ND

