Marak Pergudangan dalam Kota Jadi Biang Kemacetan yang tak Terhindarkan?
MAKASSAR SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —— Maraknya pergudangan dalam kota, menjadi sorotan publik ,momok biang kemacetan, Aktivitas Bongkar Muat yang Tidak Teratur, truk kontainer raksasa serta kendaraan box besar yang datang dan pergi dari dalam gudang yang terletak Jalan galang Kel Kaluku Bodoa kec Tallo kota Makassar, yang bergerak lambat, seringkali kesulitan bermanuver di jalan sempit
Dari hasil pantauan awak media,” bahwa pergudangan identik dengan kawasan industri didalam jantung kota.,” Menjadi Biang Keladi?Arus Truk dan Kendaraan Berat
Sulitnya radius putaran mobil kontaeiner yang besar, secara efektif dan memblokir beberapa lajur jalur kendaraan hingga membuat kemacetan lumpu total
Maraknya gudang di dalam kota beroperasi tidak memiliki fasilitas bongkar muat khusus. Akibatnya truk seringkali menepi di bahu jalan atau bahkan sebagian badan jalan untuk melakukan aktivitas bongkar muat.
Hal ini menciptakan hambatan langsung, mengurangi kapasitas jalan, dan memicu kendaraan Peningkatan Armada Pengiriman “Last-Mile”:
Gudang dalam kota tidak hanya menarik truk besar, tetapi juga menjadi titik awal kendaraan untuk melakukan banyak pemberhentian mendadak, dan seringkali parkir sembarangan saat mengantarkan paket.

Volume mereka yang tinggi, terutama saat jam-jam puncak, dan menambah kepadatan lalu lintas secara signifikan.
Infrastruktur yang Tidak Mendukung: kawasan perkotaan yang memiliki jalan yang sempit,
Persimpangan yang padat, dan tidak dirancang untuk menampung lalu lintas logistik yang padat.
Penempatan gudang di area seperti ini ibarat menempatkan gajah di toko keramik; hasilnya adalah kekacauan.,”Polusi dan Degradasi
Selain kemacetan, truk-truk yang berputa dan menganggur (idling) ini juga mengeluarkan polusi udara dan suara yang signifikan, mengganggu kualitas kehidupan warga sekitar dan merusak lingkungan
Beban kendaraan berat juga mempercepat kerusakan jalan.dan menjadi Dilema Penataan Kota
Warga berharap agar pemerintah khususnya Disprindak bertindak Memindahkan semua gudang ke pinggir kota untuk mengurangi kemacetan, yang berpotensi merugikan pengguna
Sementara Sekcam Kecamatan Tallo saat dikomprimasi pada awak media melalui via whatsaap mengatakan tidak mengatahui “terkait banyak’nya pergudangan dalam kota khususnya diwilayah Tallo termasuk ekspedisi yang makin semrawut, bahkan terkadang jadi bengkel jalanan, ketika ada armada angkutan rusak.dan diduga para pengusaha ekspedisi tidak mengantongi izin ANDALALIN .
Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif:,Regulasi Tata Ruang dan Zonasi yang Ketat
Pemerintah kota diharapkan. meninjau ulang rencana tata ruang. Zona khusus logistik di luar pusat kota atau di koridor yang mudah diakses transportasi besar harus diperketat, sekaligus melarang atau membatasi pembangunan gudang di kawasan perumukiman warga yang komersial yang padat.
Penerapan jam operasional untuk truk besar di dalam kota, terutama saat jam sibuk, untuk membantu mengurangi titik-titik kemacetan.
Insentif dan Disinsentif: Memberikan insentif kepada perusahaan yang berinvestasi pada gudang di luar kota atau menggunakan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan, serta menerapkan biaya kemacetan (congestion pricing) untuk kendaraan berat yang masuk ke area padat,
Mengabaikannya sama dengan membiarkan simpul masalah terus mengikat. Sudah saatnya merancang ulang strategi logistik perkotaan agar denyut nadi perekonomian tetap berjalan lancar tanpa harus mengorbankan kualitas hidup warga di tengah lautan kemacetan yang tak berujung.
Laporan dipublish tim red : Sadikin Rahmat

