Pecahnya Perang Kelompok Antar Warga Pattunuang Dan Kodam Di Picuh Dari Pembangunan Posko
MAKASSAR SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM ——– Pecahnya perang kelompok antar warga Pattunuang serta masyarakat Kodam yang telah menelan 4 korban luka luka, akibat terkenah anak panah busur. dalam komplik tawuran diKelurahan Bitoa Kecamatan Manggala disinyalir bermula dari pembangunan sebuah posko yang keberadaannya menimbulkan kecurigaan dan penolakan dari warga setempat.
Ketidakjelasan tujuan pembangunan posko tersebut memicu spekulasi dan kekhawatiran di kalangan warga, yang berujung pada aksi protes dan penolakan. Situasi ini kemudian memanas dan berkembang menjadi konflik terbuka antara kedua belah pihak, dipicu oleh serangkaian insiden yang memperkeruh suasana dan hilangnya komunikasi yang efektif untuk mencari solusi damai.
Ketegangan yang telah lama terpendam antara warga yang semakin memuncak dengan adanya pembangunan posko tersebut, menjadi katalisator bagi pecahnya bentrokan yang merugikan banyak pihak.dan ada indikasi bahwa posko tersebut didrikan untuk dijadikan sebagai markas agar dengan mudah menguasai lahan, yang berpotensi menjadi sengketa

Diketahui ďari hasil pantauan awak media dilokasi komplik ada indikasi yang secara sengaja menjadi pemicuh serta dalang dibalik terjadinya perselisihan, dengan memprovokatori warga setempat dengan segala teror yang dilancarkan, oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan dengan cara menggunakan massa bayaran, untuk melakukan penyerangan karena ingin mengacaukan ketetraman warga kodam Bitoa, yang masih memilih bertahan dalam komples tersebut
Disebutkan dari beberapa warga dan para tokoh masyarakat bahwa dahulunya tanah yang mereka tempati itu, didapatkan dari seseorang (Dg.Nekeng) yang telah diberikan kuasa, hanya untuk menjaga lokasi tersebut, seiring dengan waktu yang cukup lama, pemukiman semakin dipadati oleh masyarakat hingga mencapai Ribuan Kepala Keluarga yang mendirikan bangunan yang sangat sederhana
Namun warga setempat dengan kesadarannya, mereka tetap bertahan selama pemilik lokasi tersebut, masih belum ingin menggunakan’nya
Mirisnya warga yang sudah puluhan tahun menempati lahan tersebut yang didapatkan melalui Dg.Nekeng dengan Kwintasi yang beragam, ada yang tertera cuma hak pakai ada pula yang tertera Jual beli yang tercantum didalam kwintasi, Namun karena merasa diberikan wewenang, malah makin melunjak, untuk mengusir warga, dengan mengunakan sambung tangan mafia tanah

Menurut sebahagian keterangan warga Kodam Bitoa bahwa Dg.Nekeng. telah menyalahi wewenang yang dipercayakan oleh pemilik lahan, pasalnya lahan yang seluas kurang lebih dari 47 Hektar telah diperjual belikan, saking telah banyak’nya warga yang tinggal didalam komples Kodam Bitoa, hingga nyaris tidak ada lagi lahan yang kosong,
Lambat laung karena tidak ada lagi lokasi yang bisa diperjual belikan, warga sudah mulai, terusik dengan adanya mafia tanah yang mengaku ngaku bahwa lahan tersebut ingin dikosongkan dengan dalih warga dituduh sebagai penyerobatan dan menguasai lahan yang bukan miliknya, padahal mereka bisa membangun rumah didalam kompleks tersebut, bukan dengan cuma cuma, alias gratis

Sejatinya warga bersedia angkat kaki dari lokasi tersebut, asal betul betul pemiliknya yang ingin menggunakan, atau mengfungsikan,” Bukan dengan Mafia Tanah, yang picik,” yang hanya mengaku ngaku begitu saja, untuk merampas hak dari pemilik, yang sebenarnya, karena kalau mafia tanah tetap memaksakan, ingin menggusur kami, tentu kami akan melawan mereka sampai tetes darah penghabisan
Bahkan warga dengan tegas menyatakan, dengan tegas bahwa pemicuh komplik tersebut, benang merahnya, ulah dari Dg.Nekeng, yang telah membuat keonaran dan menganggu ketetraman warga, dengan membayar massa bayaran, ujar warga dilokasi yang tidak ingin disebutkan namanya melalui media ini
Laporan tim redaksi (**/Arya)

