MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ———Kabupaten Maros telah meraih penghargaan Adipura sebanyak 8 kali berturut-turut, sebuah prestasi membanggakan di bidang lingkungan hidup.

Namun, menurut aktivis Lemkira Indonesia, Ismail Tantu, kenyataan di lapangan tidak sepenuhnya mencerminkan penghargaan tersebut. Permasalahan sampah masih menjadi momok yang belum teratasi secara efektif di Kabupaten Maros.
Kota Turikale, sebagai ibukota kabupaten dan pusat bisnis, seharusnya menjadi contoh dalam pengelolaan sampah, namun ironisnya, sampah masih berserakan di sekitar kantor Pemkab Maros.

Pasar TRAMO, yang seharusnya menjadi pasar tradisional modern, justru dikelilingi sampah yang tidak terurus, meskipun di dalam kawasan pasar tersebut terdapat Bank Sampah yang keberadaannya tidak efektif.

Ismail Tantu menyoroti bahwa Bank Sampah yang ada di kawasan Pasar Tramo, justru terlihat seperti penampungan sampah tanpa sekat, merusak pemandangan dan menimbulkan bau busuk. Ia berharap pemerintah Kabupaten Maros meninjau ulang letak dan fungsi Bank Sampah, mengevaluasi penanganan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta menata PKL yang menjamur di sekitar badan jalan pasar Tramo yang sering menimbulkan kemacetan.

Ismail Tantu menekankan pentingnya menjadikan penanganan sampah sebagai program prioritas, termasuk peremajaan dan penambahan armada pengangkut sampah, demi mewujudkan Kabupaten Maros yang “keren” dan nyaman. Tutup Ismail Tantu.
(Edy Hadris).

