MAKASSAR SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —— Kasus yang melibatkan Lurah Barombong, Heru Nugraha, dengan serang war tawan media online mencuat ke permukaan publik dan disinyalir ada konspirasi antara oknum pengusaha dengan pejabat daerah.
Ketegangan semakin meningkat ketika Heru Nugraha tidak dapat menerima kritik yang disampaikan oleh seorang wartawan media online YF pada Selasa (6/8/) kemarin, mengkonfirmasi terkait laporan dari salah satu warga soal dugaan pelanggaran yang diduga dilakukan seorang pengusaha yang mendirikan bangunan tanpa IMB. Bahkan bangunan tersebut menggunakan fasum serta tidak memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) yang di keluarkan dari dinas terkait.
mengenai pengelolaan proyek-proyek yang berhubungan dengan pembangunan di wilayahnya,” kesannya Lurah Heru Nugraha, sangat Arogansi, saat seorang awak media hendak mengklarifikasi terkait adanya dugaan pengusaha nakal
Dalam sebuah wawancara yang seharusnya bersifat informatif, Heru terlihat marah dan membentak wartawan tersebut, mengekspresikan ketidakpuasannya terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dianggapnya merugikan reputasinya. Tindakan agresif ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai integritas dan akuntabilitas pejabat publik yang seharusnya bisa menerima kritik untuk perbaikan.
Banyak pihak beranggapan bahwa ada indikasi keterlibatan pengusaha yang mendapatkan keuntungan dari proyek tersebut, dan reaksi emosional dari Heru bisa jadi mencerminkan adanya tekanan atau hubungan yang tidak sehat antara dirinya dan para pengusaha tersebut.
Situasi ini menciptakan potensi skandal yang lebih besar, di mana masyarakat berhak mengetahui transparansi serta keterlibatan publik dalam setiap proyek yang didanai oleh uang rakyat.
Ketidakmampuan seorang pemimpin dalam menghadapi kritik konstruktif justru menunjukkan adanya masalah dalam kepemimpinannya dan semakin berpotensi menurunkan kepercayaan publik kepada pemerintah daerah.
Dengan demikian, kasus ini bukan hanya sekadar insiden antara seorang pejabat dan wartawan, melainkan dapat membuka tabir konspirasi yang lebih besar yang melibatkan kepentingan bisnis dan penyalahgunaan kekuasaan.
Laporan tim redaksi : (**/Arya)

