Sanggahan Tegas Lawyer Chiki atas Tudingan Miring Yang di Nilai Telah Merendahkan Orang, Melalui Media Online
MAKASSAR GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —– Di era digital, sebuah kalimat yang keluar dari lisan bisa dengan cepat bermutasi menjadi bola liar. Hanya butuh hitungan detik bagi sebuah pernyataan untuk dipotong, disebarkan, dan diberi bingkai (framing) yang sama sekali berbeda dari maksud aslinya. Inilah badai yang belakangan harus dihadapi oleh seorang praktisi hukum, Chiki.” Ia dituding telah merendahkan martabat dan melontarkan pernyataan kontroversial yang dianggap menyinggung perasaan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel).Senin 26 Oktober 2026.
Sebuah tuduhan yang tentu saja tidak main-main, mengingat ikatan kultural dan harga diri lokal di tanah “Anging Mammiri” dikenal sangat kuat.” Namun, alih-alih berdiam diri, Chiki bergerak cepat. Melalui keterangan resmi yang disampaikan dengan tegas, ia membantah keras segala tudingan miring yang berseliweran di berbagai media online tersebut.
“Pernyataan Saya Dipelintir”
Bagi Chiki, dunia hukum adalah dunia klarifikasi, pembuktian, dan pencarian kebenaran. Maka, ketika integritasnya diserang di ruang publik, ia memilih jalur yang sama untuk meluruskan duduk perkara.
Dalam keterangannya kepada awak media, Chiki menyatakan bahwa narasi yang beredar di sejumlah portal berita online sangat menyesatkan dan jauh dari apa yang sebenarnya ia ucapkan. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memotong konteks pembicaraannya demi menciptakan sensasi atau menggiring opini publik.
“Saya sangat menghormati masyarakat Sulawesi Selatan dengan segala kearifan lokal, budaya, dan marwahnya. Tidak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran saya untuk merendahkan, apalagi menghina. Apa yang diberitakan di media online tersebut adalah pemutarbalikan fakta dan disinformasi,” ujar Chiki dengan nada geram namun tetap terkontrol.
Ia menjelaskan bahwa pernyataannya yang asli disampaikan dalam koridor profesional hukum, murni membahas substansi perkara yang sedang ditangani, dan sama sekali tidak menyasar entitas masyarakat atau suku tertentu di Sulsel.
Judul berita yang provokatif (clickbait) kerap dijadikan senjata oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memantik kemarahan publik tanpa peduli pada dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan.
Masyarakat Sulsel yang dikenal memegang teguh prinsip siri’ na pacce (harga diri dan solidaritas sosial) tentu mudahikut bereaksi ketika mendengar ada pihak luar yang dianggap merendahkan daerah mereka. Provokasi inilah yang coba diredam oleh Chiki melalui bantahan kerasnya. Ia tidak ingin kesalahpahaman ini meruncing menjadi konflik horizontal yang tidak berdasar.

Menempuh Langkah Hukum?
Sebagai seorang profesional di bidang hukum, Chiki tentu sangat paham instrumen apa saja yang bisa ia gunakan untuk membersihkan namanya. Ia menyayangkan sikap beberapa media online yang menyebarkan berita tanpa melakukan cover both sides (imbang dan mengonfirmasi terlebih dahulu kepada yang bersangkutan).
Meski demikian, hingga saat ini, langkah persuasif dan klarifikasi terbuka masih menjadi prioritas utamanya. Ia berharap masyarakat Sulsel—yang dikenal cerdas dan santun—tidak serta-merta menelan mentah-mentah informasi yang beredar di dunia maya, melainkan melihat masalah ini dengan kepala dingin.
Kisah Chiki adalah cerminan dari ekosistem informasi kita hari ini. Di tengah derasnya arus digital, jempol bisa lebih tajam daripada pedang. Bagi Chiki, badai ini memang menguji reputasinya, namun di sisi lain, ini juga menjadi momentum pembuktian bahwa kebenaran harus selalu dibela dengan suara yang lantang.
Satu hal yang pasti: Chiki telah bersuara, meluruskan yang bengkok, dan menegaskan posisinya. Kini, bola salju fitnah itu telah dihentikan oleh fakta. Sebuah pengingat bagi kita semua untuk lebih bijak, teliti, dan tidak mudah terbawa arus oleh informasi yang belum tentu benar sumbernya.
Laporan dipublish tim red : Arya

