Panen Perdana Mannennungeng Capai 5,3 Ton per Hektare, Lampaui Target Produksi di Bone
GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM BONE SUL SEL – Program Mannennungeng yang dijalankan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, mencatat hasil menggembirakan. Panen perdana pada lahan demplot menghasilkan 5,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, melampaui target program sebesar 5 ton per hektare. Angka tersebut juga meningkat signifikan dibandingkan produktivitas sebelumnya yang berada di kisaran 3 ton per hektare.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil penerapan empat pilar utama Mannennungeng yang dirancang secara terintegrasi. Uwai Tuo menghadirkan sistem irigasi presisi berbasis IoT yang mampu menghemat penggunaan air hingga 25 persen. Sementara itu, Pabbura mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik untuk membantu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Dua pilar lainnya, yakni Warani dan Garisi’, turut mendukung peningkatan produktivitas. Warani menerapkan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, sedangkan Garisi’ berfokus pada adaptasi pola tanam dan rotasi varietas unggul. Sinergi keempat pendekatan tersebut membentuk sistem pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Hasil panen tersebut kemudian diverifikasi melalui kegiatan ubinan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone. Berdasarkan pengukuran di lokasi, produktivitas lahan demplot tercatat mencapai 5,3 ton GKP per hektare.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S. , mengaku bersyukur atas hasil yang diraih. “Alhamdulillah, panen perdana ini membuktikan bahwa pendekatan holistik melalui Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ benar-benar efektif. Kami tidak hanya menghemat air dan memperbaiki tanah, tetapi juga menekan risiko hama dan mengoptimalkan pola tanam. Ini adalah bukti bahwa pertanian cerdas dan berkelanjutan bisa diwujudkan di tingkat desa. Kami berterima kasih kepada BPS Bone yang telah memverifikasi capaian ini,” ujarnya.
Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, turut menyampaikan kebanggaannya. “Ini adalah momen bersejarah bagi UKM KPI Unhas. Kami telah membuktikan bahwa inovasi mahasiswa di bidang irigasi, pengolahan limbah, pengendalian hama, dan pola tanam mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan pertanian di Indonesia. Capaian 5,3 ton per hektare ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa petani bisa sejahtera dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya.

Salah satu petani binaan, Burhanuddin, S.P. , Ketua Kelompok Tani Mabbiri’ sekaligus Ketua P4S Lamellong, mengaku tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Kami tidak pernah membayangkan hasil panen bisa sebesar ini. Selama bertahun-tahun kami hanya mendapat 3 ton per hektare. Sekarang, dengan bantuan adik-adik mahasiswa dan teknologi Mannennungeng, kami bisa mendapat 5,3 ton. Ini benar-benar mengubah hidup kami,” katanya.
Capaian tersebut menjadi salah satu tonggak penting pelaksanaan Program Mannennungeng di Desa Kajaolaliddong. Keberhasilan panen menunjukkan bahwa kolaborasi mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat menghasilkan penerapan pertanian cerdas yang memberikan dampak langsung. Ke depan, pendekatan tersebut diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain sebagai bagian dari upaya mendorong produktivitas dan swasembada pangan berkelanjutan.
Laporan dipublish tim red

