SIPAKATAU: Mahasiswa KKN-T UNHAS Ajarkan Anak SD di Bantaeng Sulap Tumbuhan Liar Jadi Totebag Bernilai Seni
BANTAENG SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —— Di tengah upaya membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Posko 1 Universitas Hasanuddin menginisiasi program pengenalan seni ecoprint kepada siswa sekolah dasar di Desa Bonto Daeng, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.
Program bertajuk “SIPAKATAU: Seni Inovasi Pounding Alam Kreatif — Aksi Totebag Asri Unggulan” ini digagas oleh Tika Febriani dan dilaksanakan di SD Inpres Tamaona pada Jumat (31/7/2026), dengan sasaran utama siswa kelas 3 dan 4. Program ini merupakan program kerja individu yang lahir dari keprihatinan terhadap minimnya pemanfaatan kekayaan tumbuhan lokal yang tumbuh bebas di pekarangan warga maupun di sepanjang jalan desa.
Ecoprint sendiri merupakan teknik pencetakan motif alami dari daun dan bunga ke atas media kain, salah satunya melalui metode pounding, yaitu memukul dedaunan yang telah ditata di atas kain hingga pigmen alaminya menempel dan membentuk motif organik yang khas. Teknik ini dipilih karena sederhana, ramah lingkungan, dan mudah dipraktikkan oleh anak-anak.
“Kami ingin mengenalkan kepada anak-anak bahwa tumbuhan di sekitar mereka, seperti daun dan bunga yang sering dianggap biasa, ternyata bisa diolah menjadi karya seni yang bernilai melalui teknik ecoprint,” ujar Tika.

Kegiatan dibuka dengan pemaparan materi ringan mengenai konsep dasar ecoprint dan teknik pounding, disertai pengenalan berbagai jenis daun dan bunga di lingkungan sekitar yang berpotensi digunakan sebagai bahan cetak alami. Pendekatan ini dipilih agar peserta tidak hanya memahami cara pembuatannya, tetapi juga tumbuh kepekaannya terhadap kekayaan hayati di lingkungan tempat tinggal mereka.
Memasuki sesi praktik, setiap peserta memperoleh totebag polos sebagai media utama. Daun dan bunga kemudian ditata di atas permukaan kain sesuai kreativitas masing-masing anak, dilapisi plastik, lalu dipukul secara perlahan hingga pigmen alami membekas dan membentuk motif pada totebag. Peserta turut diperkenalkan pada aspek kerapian motif dan kebersihan hasil akhir, sebagai bekal apabila kelak produk tersebut ingin dipakai sehari-hari maupun dipasarkan sebagai produk kreatif bernilai jual.
Antusiasme tinggi terlihat sepanjang kegiatan berlangsung, terutama saat proses pemukulan daun yang menghasilkan motif alami dengan corak warna dan bentuk yang berbeda-beda pada setiap totebag. Sejumlah peserta bahkan saling menunjukkan hasil karya mereka dan mengungkapkan keinginan untuk kembali mempraktikkan teknik ecoprint di rumah masing-masing.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T UNHAS berharap dapat menumbuhkan kreativitas serta kecintaan generasi muda Desa Bonto Daeng terhadap potensi alam sekitar, sekaligus membuka wawasan baru mengenai peluang seni dan ekonomi kreatif berbasis bahan alami sejak dini.
Laporan dipublish tim red

