Didampingi Tim STF TN Babul, Mahasiswa Kehutanan UNHAS Simulasi Monitoring Macaca maura di Karaenta.
MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ————- Enam mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang mengikuti program magang skema Praktik Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) melalui Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK) melaksanakan simulasi monitoring Macaca maura di Site Karaenta pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa dalam memahami teknik pemantauan satwa liar secara langsung di habitat alaminya.
Adapun enam mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Amira Mufidah, Erika Selyndana, Nurul Annisa, Nur Mardatillah Qadriana Putri M, Salsabila Mahif Aulia, dan Damaris Bine Mata.

Mereka melakukan pengamatan lapangan untuk mempelajari perilaku Macaca maura, pola interaksi kelompok, hingga berbagai tantangan konservasi yang dihadapi satwa endemik Sulawesi Selatan tersebut.
Pengalaman menarik dirasakan para mahasiswa saat proses monitoring berlangsung.
Salah seorang peserta, Salsabila Mahif Aulia, mengungkapkan bahwa kehadiran kelompok Macaca maura seolah menyambut kegiatan mereka.
“Seperti sedang menyambut kita dalam kegiatan monitoring, ada sekitar sebanyak 12 ekor Macaca maura di kelompok H menampakkan diri saat kegiatan monitoring,” ujar Salsabila.
Pengalaman berkesan juga disampaikan Erika Selyndana yang untuk pertama kalinya dapat mengamati satwa tersebut dari jarak dekat.
“Senang rasanya bisa melihat Macaca maura secara dekat, dan bisa melihat aktivitas mereka. Saya juga melihat Macaca warna putih yang merupakan Macaca Albino,” ungkap Erika.
Sementara itu, Nurul Annisa menyoroti masih adanya interaksi manusia yang berpotensi mengganggu perilaku alami satwa.
“Dari kegiatan monitoring tadi, saya melihat langsung interaksi monyet dengan kendaraan yang lewat. Beberapa pengunjung masih memberikan makanan secara langsung dari mobil, padahal hal tersebut tidak diperbolehkan karena dapat mengubah perilaku alami satwa dan berdampak buruk bagi keberlangsungan hidupnya di habitat,” jelas Nisa panggilan akrabnya
Mahasiswa lainnya, Damaris Bine Mata, menilai kegiatan monitoring menjadi pengalaman penting dalam memahami konservasi satwa liar secara nyata.
“Melalui kegiatan monitoring Macaca maura, saya dapat melihat secara langsung bagaimana perilaku satwa liar di habitat alaminya. Kegiatan ini penting dilakukan untuk mengetahui kondisi populasi, pola interaksi, serta berbagai ancaman yang dapat memengaruhi kelangsungan hidupnya di alam,” ujar Damaris.
Koordinator Tim Kerja Sanctuary Tarsius dan Macaca, Kama Jaya Shagir, S.Hut., M.Hut., menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan monitoring lapangan menjadi bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia kehutanan yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kepedulian terhadap konservasi satwa liar.

“Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat kemampuan mahasiswa dalam teknik monitoring satwa, tetapi juga membangun pemahaman bahwa konservasi membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian satwa di habitat alaminya,” ujar Bang Jack, panggilan akrabnya.
Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Aswadi Hamid, menambahkan bahwa pengamatan lapangan menjadi sarana belajar yang efektif bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara satwa, habitat, dan aktivitas manusia.
Senada dengan itu, Fungsional PEH, Supardi, S.Hut., menegaskan bahwa edukasi kepada pengunjung terkait larangan memberi makan satwa liar perlu terus diperkuat agar perilaku alami satwa tetap terjaga.
Kegiatan monitoring tersebut diharapkan dapat menjadi pengalaman lapangan yang memperkuat kapasitas mahasiswa sekaligus menumbuhkan semangat konservasi bagi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan satwa endemik Sulawesi Selatan di habitat alaminya.
Laporan : Aswadi Hamid, S.P.
Penulis : Zaenal Arifin, S.Hut

