KOTABARU KALSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM—- Perspektif berbeda ditunjukkan oleh Ardhi Supriyanto dalam melihat persoalan limbah. Bagi dirinya, sisa olahan kelapa justru menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber ekonomi yang mampu menggerakkan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Langkah konkret diwujudkan melalui PT Andalas Natural Coconut yang membangun sistem usaha terpadu berbasis kerakyatan. Hingga saat ini, lebih dari 300 UMKM telah tergabung dalam ekosistem tersebut dan memberikan peluang kerja bagi sekitar 2.000 orang di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi.
Konsep pemberdayaan menjadi fondasi utama dalam pengembangan program ini. Skema produksi dirancang sederhana dan fleksibel sehingga dapat dilakukan dari rumah, memungkinkan keterlibatan aktif berbagai kalangan seperti ibu rumah tangga, petani, dan pemuda desa.
Pemanfaatan limbah kelapa menjadi nilai tambah terlihat dari kapasitas produksi yang mencapai sekitar 1.000 ton setiap bulan. Bahan baku tersebut diolah menjadi beragam produk, mulai dari coconut chip, minyak kelapa, tepung kelapa, hingga pupuk organik dan media tanam, sekaligus memberikan kontribusi pada pengurangan limbah lingkungan.
Apresiasi pun datang dari sejumlah pemerintah daerah, terutama di Jawa Tengah, Riau, dan Sulawesi Tengah. Model pemberdayaan yang praktis dan mudah diterapkan dinilai mampu menjadi solusi nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Perluasan jaringan dilakukan dengan menggandeng Forum BUMDes Indonesia dan Koperasi Jasa Komando Merah Putih 08 guna memperkuat rantai produksi serta distribusi di tingkat nasional.
Penguatan infrastruktur turut menjadi perhatian melalui kerja sama dengan mitra perusahaan dari Tiongkok, khususnya dalam pembangunan gudang dan fasilitas pengemasan. Saat ini, fasilitas tersebut telah berjalan di beberapa wilayah Jawa Barat dan akan segera dikembangkan ke Sulawesi Tengah sebagai bagian dari ekspansi program.
Sinergi dengan pemerintah juga terus dibangun sebagai bentuk dukungan terhadap kemajuan desa. Dalam berbagai kesempatan, Ardhi bersama jajaran Staf Kementrian Desa PDTT, serta Bupati Kabupaten Buol, dan Sigi Sulawesi Tengah, melakukan koordinasi untuk mendorong program pengelolaan limbah berbasis masyarakat.

Kebutuhan pasar global yang terus meningkat, terutama dari China, menjadi peluang strategis dengan permintaan yang mencapai hingga 1.000 ton per bulan.
Pandangan Ardhi menegaskan bahwa kegiatan usaha tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Ketika masyarakat diberdayakan, limbah dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata,” ujarnya
Komitmen yang konsisten menjadikan inisiatif ini sebagai bukti bahwa pengelolaan potensi lokal secara tepat mampu menciptakan dampak besar dalam pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.
Laporan tim redaksi

