Ketika Kebaikan, Dibalas Dengan Sebuah Drama Pemerasan Yang Berbuntut Prahara
MAKASSAR SULSEL GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS.COM —- Senin 17 Nopember 2025. Sidang pembelaan saksi meringankan dipengadilan negeri Makassar terdakwa atas dugaan pengqaniayaan setahun telah berlalu peristiwa pahit menerpa keluarga Rusdianto Alias Ferry tepatnya pada tgl 26 Januari 2024 jelang akhir tahun, sebuah masalah datang dari seorang yang diketahui bernama Thanty, yang merupakan ibu kandung, dari seorang anak yang tidak disebutkan nama’nya maupun disamarkan yang telah dirawat,”Oleh orang Tua Angka:tnya Yakni Rusdianto Alias Ferry sejak berusia 6 bulan, dan kini sudah beranjak usia 6 tahun, Rabu 19 Nopember 2025.
Rusdianto Alias Ferry, yang dijerat dikursi pesakitan sebagai terdakwa dengan tudingan penganiayaan kepada korban Thanty, yang telah mendatangi kediaman Rusdianto Alias Ferry, bersama seorang laki laki,”dan diketahui merupakan Bapak dari korban, sekaligus kakek dari anak yang dirawat oleh keluarga Rusdianto Alias Ferry,”Yang telah secara sah,”bahwa Ibu biologis,dan kakek dari anak tersebut, menyerahkan sepenuhnya,” hak asuh anak’nya untuk dirawat.”Demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak,” Namun dibalik kebaikan keluarga Rusdianto Alias Ferry,”di manfaatkan oleh Thanty dan Ayah’nya untuk menguras Rusdianto Alias Ferry sebagai mesin ATM, yang se’enaknya dapat digesek untuk mendapatkan apa yang di inginkan,
Setahun setelah anak ini dirawat dan di asuh,”Gelagak ibu kandung (Thanty) dan bapaknya, sudah mulai terlihat tabiak buruknya,” Sehingga Rusdianto Alias Ferry berinisiatif, untuk membuat perjanjian kesepakatan dibawah tangan yang ditanda tangani kedua belah pihak serta saksi saksi
“kesabarannya, dan kasih sayang yang tulus.dari orangtua asuh anak tersebut “bagai senyuman seulas sinar matahari yang mampu menghalau mendung di hati siapa pun yang mengenalnya.”Kebaikan adalah nafasnya, dan menolong adalah kenyamanannya”
Lantaran tidak terpenuhinya lagi permintaan korban Thanty dan ayahnya sehingga membuat suatu prahara,” seolah kesannya dalam kontes ini, dirinyalah yang teranianya,” bahkan
menyebarkan rumor palsu dan pembohongan publik melalui media sosial” dan beberapa platform pemberitaan media online

Subjek utama drama ini,” Rusdianto Alias Ferry tampak bingung dan tidak berdaya di antara keduanya. Ia tak menyangka kebaikannya di masa lalu kini berbuah petaka bagi orang yang di bantunya,” dianggapnya sebagai keluarga,”karena telah mendapatkan hak asuh dari anak tersebut,
Mirisnya lagi,beberapa rumor dan narasi palsu yang diumbar melalui media online langsung menghakiminya tanpa mencari tahu kebenarannya. Dramaasan pemer itu telah mewarnai cerita asli kebaikan keluarga Rusdianto Alias Ferry dengan noda prasangka.dari korban lisan Kebaikan ketulusannya akan dianggap sebagai kelemahan yang bisa dieksploitasi. Prahara seolah menghancurkan hidupnya, menghancurkan ketenangan yang ia bangun dengan susah payah”
“Menghadapi kenyataan bahwa dunia tak selalu menerima kebaikan dengan tangan terbuka. Namun, ia berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk membuktikan bahwa kebaikan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar, bahkan di tengah kegelapan drama pemerasan yang berbuntut prahara.
Bahwa terkadang, niat tulus bisa disalahartikan, dan hak kebaikan dapat dibalas dengan niat jahat. Namun, di balik cerita prahara ini,”tersimpan pula harapan: bahwa keberanian untuk membela kebaikan, dan keyakinan pada kebenaran, pada akhirnya akan mampu menyingkap tirai kepalsuan dan mengembalikan hak kebaikan pada tempat yang seharusnya.
Laporan dipublish tim redaksi : Arya

