MAROS SULAWESI SELATAN GERBANG INDONESIA TIMUR NEWS COM ———-Kondisi pendidikan di Kabupaten Maros kembali menjadi sorotan publik, dengan munculnya kekhawatiran siswa harus menempuh pendidikan di luar daerah asal mereka.
Banyak siswa dari Desa Rompegading Kecamatan Cenrana terpaksa berjalan kaki hingga 6 kilometer untuk bersekolah di Kabupaten Pangkep karena terbatasnya akses pendidikan di daerah mereka sendiri.

Para orang tua siswa mengungkapkan kekecewaan mereka karena merasa bahwa dinas pendidikan setempat gagal menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak-anak mereka.
Penutupan sekolah swasta yang sebelumnya sudah ada di Dusun Pattiro, Desa Rompegading, semakin memperparah keadaan, sehingga hanya SDN 25 Padangalla yang menjadi alternatif satu-satunya.
Padahal, jaraknya SDN 25 tersebut sangat jauh dari desa Rompegading dibandingkan dengan sekolah di Balocci, Pangkep.

Kondisi ini memaksa anak-anak untuk bangun sebelum fajar untuk menempuh perjalanan jauh ke sekolah.
Para guru di Pangkep memastikan untuk mengajar siswa dari Maros dan memberikan bantuan seperti seragam dan buku, bahkan menyarankan siswa untuk tetap di rumah selama cuaca buruk atau hujan karena medan yang berbahaya, yang meliputi sungai, tebing, dan potensi tanah longsor di sepanjang rute.
Malik LSM KIPFA Maros mengkritik kegagalan sistem pendidikan dalam menjamin akses pendidikan dan mendesak Bupati untuk mengatasi masalah tersebut dan Dinas Pendidikan untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah-daerah terpinggirkan.

Malik juga meminta anggota DPRD setempat untuk mengadvokasi peningkatan pendidikan di daerah pemilihan mereka.
Kepala Desa Rompegading menguatkan situasi tersebut, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh siswa yang menempuh perjalanan melalui sungai dan hutan, dan mengimbau Pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan di desa desa terpencil sehingga anak-anak dapat belajar lebih dekat dengan rumah mereka.
(Tim).

