BULUKUMBA GERBANG INDONESIA TIMUR INDONESIA TIMUR —- Andi. Mahrus Andis seorang sastrwan berasal dari tanah Bugis tepatnya kab. Bulukumba , alumni SMA Negri 198 Bulukumba angkatan 70 an.
Ditemui awak media ini , mengatakan dan berceritra tentang sebuah do’a yang munajab….
Doa adalah perilaku batiniah seorang hamba yang sedang bermunajat kepada Tuhannya. Doa itu hak azasi, sekaligus kewajiban mutlak umat Islam di atas lisensi firman Allah Swt : Ud’uunii astajiblakum. (berdoalah, maka Aku kabulkan ).

Kisah mujizat nabi musa
Doa yang terkabulkan, lazimnya terpantul dari kesungguhan hati yang ikhlas. Jauh dari manipulasi kebutuhan. Dan tidak ditunggangi oleh rekayasa kepentingan hawa nafsu.
Munajat seperti ini pernah dialami oleh Nabiyullah Musa Alaihissalaatu wassalam. Dalam satu riwayat, dikisahkan bahwa Nabi Musa terkena sakit gigi. Untuk sembuh dari sakitnya, dia segera menuju bukit Tursina. Di puncak bukit itulah dia berdialog dengan Tuhan seraya memohon agar disembuhkan dari sakitnya.
Dalam dialognya, Allah SWT memberikan petunjuk agar segera turun dari bukit dan memetik daun jarak untuk dibuat obat. Maka Nabi Musa pun mengikuti petunjuk itu. Atas izin Allah, sakit gigi Nabi Musa benar-benar sembuh oleh ramuan daun jarak tersebut.
Beberapa bulan kemudian, sakit gigi Nabi Musa kambuh lagi. Teringat peristiwa sakit gigi di bukit Tursina yang lalu, Nabi Musa pun segera menuju kaki bukit. Di sana ia memetik daun jarak untuk menyembuhkan sakit giginya.
Namun apa yang terjadi? Sakit gigi Nabi Musa tidak mengalami kesembuhan. Bahkan semakin parah. Dengan tertatih membawa perih, Nabi Musa bergegas mendaki bukit. Di puncak Tursina, dia memohon kembali petunjuk agar sakit giginya segera sembuh seperti semula.
Dari petunjuk Allah SWT, akhirnya Nabi Musa menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Ia pun segera bersujud, memohon ampun atas kesombongan dirinya.
Ketika sakit gigi yang pertama, Nabi Musa bermunajat kepada Allah agar segera disembuhkan sakitnya. Dan Allah pun mengabulkan. Namun pada saat sakit gigi yang kedua kalinya datang lagi, Nabi Musa ditunggangi perasaan sombong.
Dia merasa tidak perlu bermunajat lagi kepada Tuhan. Alasannya, dia sudah tahu bahwa obat sakit gigi yang paling ampuh adalah ramuan daun jarak.
Rupanya di serpihan hati yang sombong itu, tidak hadir keridaan Allah. Tuhan yang maha menyembuhkan.
Lanjut sastrawan asal Bulukumba itu mengatakan bahwa , Riwayat tersebut Sebuah hikmah sederhana, bahwa semua persoalan kehidupan hanya mampu diselesaikan atas izin dan keridaan Allah kepada hamba-Nya.
Sakit gigi yang dialami Nabi Musa hanyalah satu titian ruhaniah untuk meraih keridaan Allah, melalui medium material yang bernama daun jarak.
Oleh karena itu, siapa pun yang merasa dekat kepada Tuhan, janganlah merasa sombong. Tetaplah bermunajat untuk meraih keridaan-Nya. (**)
Laporan : (**/Edy H )
